Mereka terpaksa harus menunda kepulangannya ke kampung halamannya di Madura, gara-gara tidak kebagian tiket KMP (Kapal Motor Penumpang).
Di antaranya, bahkan ada yang sudah menunggu hingga empat hari untuk mendapatkan tiket.
"Saya sudah empat hari bermalam di sini, tidak kebagian tiket. Mungkin besok baru dapat, tapi ya tetap harus antre. Saya mau mudik ke Sapeken," tandas Mashuri, salah satu calon penumpang.
Keterangan yang dihimpun detikcom menyebutkan, para penumpang yang terlantar di Pelabuhan Jangkar Situbondo, itu umumnya warga dari Kepulauan di Madura. Mereka bermaksud mudik untuk merayakan lebaran di kampung halamannya. Namun, pemudik yang sebagian membawa balita dan barang bawaan itu terpaksa menunda kepulangannya karena tidak kebagian tiket KMP di pelabuhan Jangkar Situbondo.
Tak hanya tiket KMP, tiket kapal motor kayu yang biasa dijadikan alternatif pemudik, beberapa hari ini juga selalu ludes terjual. Tak heran, untuk bisa mendapatkan tiket, sebagian pemudik memilih bertahan di depan pintu loket tiket. Mereka menunggu loket tiket dibuka, untuk berada di barisan depan antrean agar bisa segera memperoleh tiket. Para pemudik bermaksud pulang setelah rata-rata setahun bekerja di pulau Bali dan Jawa.
"Ke depan pemerintah harus menambah armadanya, baik kapal Fery maupun kapal kayu. Karena jumlahnya yang ada ini tidak seimbang dengan jumlah pemudik. Kalau begini kami harus antri, padahal puncaknya nanti saat mendekati lebaran," ujar pemudik mengaku bernama Shadiq, asal Pulau Raas, Sumenep.
Kepala Pelabuhan Jangkar, Juni Dwi Hanggoro mengatakan, mengantisipasi membludaknya penumpang jelang lebaran itu, pihaknya memang tidak melakukan penambahan armada. Armada yang ada saat ini tetap 2 KMP. Tetapi, jadwal pemberangkatan 2 KMP itu ditambah. Untuk hari-hari biasa, biasanya hanya 2 kali dalam seminggu. Menyambut arus mudik, kini jadwal ditambah menjadi 4 kali dalam seminggu.
"Untuk yang belum terpenuhi itu yang tujuan ke kepulauan Raas. Kalau yang lain saya rasa sudah bisa memadai. Mau bagaimana lagi, kita juga tidak mungkin memaksakan penumpang melebihi kapastias angkutan. Karena bagaimana pun kita tetap harus mengedepankan keselamatan," tandas Juni Dwihanggoro kepada detikcom.
(bdh/bdh)











































