Kasat Lantas Polres Mojokerto, AKP Budi Setiyono menjelaskan, puncak arus mudik lebaran terjadi mulai tanggal 26 Juli mendatang. Di wilayah Kabupaten Mojokerto, terdapat dua titik jalur mudik lebaran yang menjadi biang kemacetan. Yakni Jalan Airlangga Kecamatan Mojosari dan simpang 4 Trowulan.
Di Jalan Airlangga Mojosari, tepatnya antara simpang 3 taman sampai simpang 3 klenteng, kepadatan lalu lintas terjadi pukul 06.00-08.00 WIB, pukul 10.00-14.00 WIB dan pukul 15.00-17.00 WIB. Jalur sepanjang 3 Km ini, menjadi jalur alternatif para pemudik dari Mojokerto atau Sidoarjo menuju Pasuruan, Malang dan Batu.
"Penyebabnya arus lalu lintas yang padat, jalan menyempit pada pertigaan taman, banyak kendaraan tidak tertib parkir dan merupakan pusat perbelanjaan dan pasar," jelas Budi saat dihubungi detikcom, Minggu (20/7/2014).
Di simpang 4 Jalan Raya Trowulan, menurut Budi selalu terjadi kemacetan lalu lintas selama arus mudik lebaran. Kemacetan di lokasi ini terjadi akibat ekor kemacetan di Jalan Raya Mojoagung yang terdapat penyempitan jalan. Selain itu, persimpangan ini merupakan jalur masuk ke kawasan wisata sejarah Trowulan.
"Musim libur lebaran, simpang 4 Trowulan juga dipadati wisatawan yang akan berkunjung ke wisata sejarah Majapahit. Oleh sebab itu, bagi pemudik dari arah Jombang bisa melalui jalur alternatif belok ke kiri masuk Kota Mojokerto. Selain itu, kami melakukan pengaturan lalu lintas dengan cara manual tanpa trafick light," imbuhnya.
Masih kata Budi, selain rawan kemacetan, Jalan Raya Trowulan juga menjadi jalur tengkorak yang rawan terjadi kecelakaan lalu lintas. Tepatnya antara Desa Watesumpak dengan Desa Jatipasar, Kecamatan Trowulan sepanjang 1 Km. Jalur ini menempati urutan pertama langganan kecelakaan lalu lintas selama arus mudik lebaran.
"Kejadian kecelakaan lalu lintas musim mudik tahun 2013 mencapai 20 kejadian yang melibatkan roda 2 dan roda 4. Korban jiwa 1 orang dan 4 orang luka berat serta 34 lainnya luka ringan. Kejadian tertinggi di jalur tengkorak Trowulan. Namun prediksi kami, angka kecelakaan selama arus mudik lebaran turun 62% dari tahun lalu," paparnya.
Menurut Budi, di jalur yang menghubungkan Mojokerto dengan Jombang ini, kontur jalannya bergelombang dan retak. Kondisi ini diperparah lagi dengan minimnya rambu-rambu lalu lintas dan penerangan jalan umum (PJU).
Selain Jalan Raya Trowulan, lokasi rawan kecelakaan juga di Jalan Raya Pungging-Ngoro sepanjang 8 Km, jalur alternatif sepanjang 2 Km Pacet-Batu via Desa Sendi Kecamatan Pacet, serta Jalan Raya Ngrame Pungging-Prambon sepanjang 2 Km. "Kurangnya PJU, rambu peringatan dan pembatas jalan menjadi faktor utama kecelakaan lalu lintas di tiga jalur ini," ungkap Budi.
Sementara Kapolres Mojokerto Kota, AKBP Wiji Suwartini mengatakan, ada beberapa titik yang harus diwaspadai para pemudik yang melintasi By Pass Mojokerto. Diantaranya, jalur antara simpang 4 Mertex hingga simpang 4 Sekar Putih. Pada jalur ini, meski jalan cukup lebar, namun kondisi jalan yang bergelombang dan tidak adanya median jalan menjadi penyebab seringnya terjadi kecelakaan lalu lintas.
"Jalur barat By Pass Mojokerto setelah simpang 4 Kenanten juga rawan kecelakaan. Kondisinya lebar namun kurang PJU, serta persimpangan KA Kelurahan Gunung Gedangan, Magersari kondisinya bergelombang. Jika pengendara melaju dengan kecepatan tinggi akan berbahaya, namun jika melambat akan menyebabkan kemacetan," jelas Muji kepada detikcom.
Terkait dengan kondisi jalan yang bergelombang, Wiji berjanji akan berkoordinasi dengan Dinas PU Provinsi Jatim, karena By Pass Mojokerto merupakan jalan provinsi. Pihaknya berharap, segera ada perbaikan jalan sebelum arus mudik lebaran.
"Minimal Dinas PU Provinsi melakukan perbaikan dengan perataan jalan, sehingga tidak membahayakan para pemudik. Selain itu, kita akan pasang spanduk peringatan hati-hati dan menempatkan anggota Sat Lantas di lokasi-lokasi yang rawan kecelakaan," pungkasnya.
(bdh/bdh)











































