Dia adalah Muhammad Doni (11). Di usianya yang sangat belia, bocah kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (MI) Mambaul Ulum ini rela meluangkan waktu bermainnya untuk mengawal para pengguna jalan yang menyeberangi perlintasan KA tanpa palang pintu di Desa Mojoranu.
Tak hanya pengguna sepeda angin dan sepeda motor saja, bocah asli Dusun Karang Nongko, Desa Mojoranu ini juga piawai mengawal kendaraan roda empat yang hendak menyeberangi perlintasan KA. "Ayo jalan terus, hati-hati, ayo-ayo..," ujar Doni saat mengawal sebuah mobil pick up menyeberangi perlintasan KA, Sabtu (19/7/2014).
Tak seperti bocah seusianya yang masih senang bermain, putra pasangan Suwaji dan Uripah ini justu rajin menjalankan tugas tanpa jasa sebagai relawan persimpangan KA. Berbekal peluit warna putih yang dikalungkan di lehernya, bendera merah dan perangkat rambu bertuliska 'STOP', sepulang sekolah hingga sore hari, Doni berada di persimpangan KA Mojoranu.
"Disini (persimpangan KA) hampir setiap hari. Kadang dari siang sampai sore, setelah pulang sekolah. Tak terasa sudah sekitar satu tahun, harapan saya supaya tidak terjadi kecelakaan disini," tutur Doni.
Namun tugas mulia Doni bukan atas permintaan siapapun. Bocah lugu ini sengaja membantu tugas kakeknya yang juga menjaga persimpangan KA di lokasi yang sama. Pasalnya, Suhut (64), sang kakek yang sudah sakit-sakitan sudah jarang terlihat di persimpangan KA yang telah bertahun-tahun dijaganya.
"Selam disini, tak ada yang bayar, hanya kadang ada pengguna jalan yang kasih uang receh seikhlasnya, lumayan bisa buat jajan," ungkap Doni.
Mungkin tak sepatutnya bocah lugu seperti Doni mengemban tugas menjaga persimpangan KA yang sangat rawan terjadi kecelakaan. Apalagi menjelang arus mudik lebaran, tentunya arus perjalanan KA meningkat. Begitu pula volume warga yang menyeberang perlintasan KA juga meningkat.
"Seharusnya PT KAI memasang palang pintu di persimpangan ini, karena sangat rawan terjadi kecelakaan. Kalau dipasrahkan anak kecil begini, bisa bahaya bagi penyeberang dan bocah itu (Doni) sendiri," kata Sabar, salah seorang penyeberang perlintasan KA saat dimintai pendapat terkait keberadaan Doni.
(bdh/bdh)











































