Sebelum disembelih, kerbau bule tersebut diarak di kawasan Dolly dan Jarak.
"Selain menyambut datangnya bulan Ramadan, syukuran dengan menyembelih kerbau juga menandakan tanda perlawanan kami, dan bersyukur aktivitas di lokalisasi masih beroperasi seperti biasa," ujar Slamet, Humas Front Pekerja Lokalisasi (FPL) di sela pengarakan kerbau, Kamis (26/4/2014).
Dari pantauan detikcom, kerbau tersebut dililit dengan karton yang bertuliskan 3 nama tokoh yang dianggap sebagai penindas warga dan pekerja di lokalisasi Jarak dan Dolly.
Selain nama Gubernur Jawa Timur Soekarwo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya Supomo, ada juga nama Mat Mochtar (yang diduga menganiaya warga Dolly) dan Saka (pemilik wisma Barbara yang dinilai sepakat dengan kebijakan Pemkot Surabaya menutup lokalisasi).
Saat mengarak kerbau tersebut, para pekerja meneriakkan yel-yel yang menghujat nama-nama tokoh tersebut seperti kerbau.
Aksi tersebut mendapat sambutan warga yang dilintasi arakan kerbau. Selain itu, juga sempat menghambat arus lalu lintas di Jalan Jarak menuju ke Girilaya maupun arah sebaliknya.
Setelah diarak, kerbau tersebut akan disembelih di posko perlawanan penutupan lokalisasi Jarak dan Dolly.
(bdh/bdh)










































