Perpaduan unik kuliner antara bakso dan sea food ini jarang ditemukan. Namun rupanya dari perpaduan tersebut, memunculkan makanan yang menggugah selera.
"Ini pertama kali di Banyuwangi. Dan terasa cocok bakso dengan lobster," ujar Putri, salah satu pembeli dikedai bakso lobster kepada detikcom, Selasa (24/6/2014).
Menurut Putri, perpaduan antara seafood dengan pentol dan kuah bakso sangat cocok di lidah. Dan dilihat perpaduan warna sangat berbeda, kesan merah lobster mengisi kepucatan warna bakso.
"Jadi ada warna merah menyala dari lobsternya. Sangat menggugah selera," tandasnya.
Ide ini muncul dari pemuda-pemuda Banyuwangi yang mengkombinasikan makanan biasa menjadi luar biasa. Hayyu Arreza, Hasbi Assodiki dan Hilmy mencoba membuka kedai bakso lobster pertama di Banyuwangi.
"Kita bertiga mencoba membuka kedai ini, memang makanan yang kita sajikan biasa. Tapi dengan tambahan seafood jadi luar biasa," ujar Hasbi kepada detikcom saat ditemui dikedainya, Minggu, (22/6/2014).
Munculnya ide bakso lobster, kata Hasbi, karena dirinya bersama rekannya memiliki budidaya lobster air tawar. Selanjutnya, untuk menambah income selain beternak lobster, Hasbi bersama rekannya membuka kedai bakso lobster.
"Ini memang kita rencanakan untuk menambah income kita selain budidaya lobster," tambahnya.
Mengenai harga, kata Hasbi sangat terjangkau. Dirinya mematok harga mulai dari Rp 15 ribu hingga Rp 60 ribu sesuai dengan pesanan besar dan kecilnya lobster yang diminta.
"Untuk harga sesuai dengan grade-nya. Mulai dari grade A sampai jumbo kita siapkan untuk pelanggan kita," tambahnya.
Sementara Hilmi, salah satu pendiri bakso lobster menuturkan, kedainya dibuka mulai pukul 16.00 Wib hingga 21.00 Wib. Namun belum sampai pukul 21.00 WIB, biasanya bakso lobster ludes terjual.
"Rekor kita, buka jam 4 sore habis jam 5 sore. Cuma satu jam kita jual sekitar 150 ekor lobster. Kalau hari biasa sekitar 100an lobster yang terjual," tambahnya.
Untuk menarik minat pengunjung, dirinya men-setting kedai bakso lobster berbeda dengan warung atau kedai bakso biasanya. Dengan kayu bekas pengepakan barang, disulapnya menjadi meja dan banku untuk pengunjung. Ditambah lagi alunan musik reagge menambah kerasan pengunjung untuk nongkrong di sana. Pantas saja, tempat yang dibuka pada awal Juni ini ramai dikunjungi anak muda Banyuwangi.
(fat/fat)











































