Nekat, PSK Dolly dan Jarak Gelar Upacara Pembukaan Lokalisasi

Nekat, PSK Dolly dan Jarak Gelar Upacara Pembukaan Lokalisasi

- detikNews
Senin, 23 Jun 2014 17:23 WIB
Nekat, PSK Dolly dan Jarak Gelar Upacara Pembukaan Lokalisasi
PSK dan pekerja lokalisasi menggelar upacara/Rois J
Surabaya - Lokalisasi Dolly dan Jarak sudah resmi ditutup Pemkot Surabaya 18 Juni lalu. Meski begitu, para PSK dan pekerja di lokalisasi tidak menggubris penutupan tersebut.

Buktinya, hari ini ekerja seks komersial PSK di lokalisasi Dolly dan Jarak menggelar upacara pembukaan lokalisasi di Gang Dolly. Upacara ini menandakan bahwa lokalisasi Dolly dan Jarak masih tetap beroperasi seperti biasa.

Dari pantauan detikcom, Senin (23/6/2014), upacara pembukaan lokalisasi tersebut digelar sederhana. Para pekerja baik dari lokalisasi Dolly dan Jarak berkumpul berbaris berbanjar 3, untuk menghormati bendera merah putih.

Petugas upacara juga terdiri dari pekerja lokalisasi dan warga sekitarnya. Ada yang bertugas sebagai pengibar bendera, paduan suara, hingga inspektur upacara. Tiang bendera juga sederhana, yang ditancapkan di tempat tiang bendera di atas pot bunga.

Meskipun kemarin malam masih terlihat bekerja, para PSK tersebut tetap mengikuti upacara sebagai kebebasan dalam menjalankan operasional sehari-hari untuk melayani tamu pria hidung belang.

"Hingga hari ini kita akan buktikan bahwa pekerja di lokalisasi masih tetap bekerja seperti biasa," ujar Anissa selaku pemimpin upacara saat memberikan sambutan.

Perempuan yang juga tim advokasi Front Pekerja Lokalisasi (FPL) mengatakan, rakyat sudah dikenyang dibodoh-bodohi pemerintah. Katanya, propaganda pemerintah yang berdasarkan agama, moral, psikologi anak dinilai sebagai bualan omong kosong belaka.

"Deklarasi hanya keputusan politis yang menipu. Masyarakat kita memang bodoh tidak paham hukum. Tapi perlu disadari, deklarasi di Islamic Center yang dihadiri Gubernur, Menteri Sosial tidak memiliki kekuatan hukum, tidak memiliki landasan hukum yang memaksa kita keluar dari lokalisasi," tegasnya.

"Saya yakin, ketika pemerintah mampu mengentas pengangguran, kemiskinan dan mampu mensejahterakan anak yang terlantar, saya yang pertama kali menganjurkan kawan-kawan pergi dari lokalisasi," yang disambut teriakan 'betul' dari peserta upacara.

Dalam kesempatan itu, perangkat RT, RW yang membawahi wilayah lokalisasi mengancam akan memboikot Pemilu Presiden 9 Juli 2014 nanti.

"Kita buktikan rakyat masih punya kekuasaan. Jangan pernah percaya janji-janji mereka, orang partai yang memperkaya partainya. Mereka tidak becus mengurus rakyat. Rakyat butuh makan, rakyat butuh pendidikan untuk anak-anak," tandasnya.

(bdh/bdh)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini