Selain seluruh buku desa dan arsip, aneka perabot di ruangan kantor desa itu juga ludes. Mulai satu unit komputer, printer, meja, kipas angin dan jam dinding, dan perabot lainnya.
Dari bekas jejaknya, pelaku diperkirakan masuk lewat jendela belakang, sebelum akhirnya membakar isi ruangan Sekretariat Desa Curahkalak. Pelaku menyalakan api menggunakan tumpukan buku dan arsip, lalu dibakar.
Usai membakar, pelaku kabur lewat jalan semula dengan memanjat kursi dalam ruangan. Ditemukan bekas telapak kaki di atas kursi dekat jendela belakang. Polisi masih menyelidiki kasus kebakaran itu.
"Ditemukan bekas kaki di atas kursi dalam ruangan. Jadi dugaan memang ada yang membakar. Masih diselidiki. Mudah-mudahan kita bisa mengidentifikasi bekas telapak kaki itu," kata Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP H Sunarto, Senin (23/6/2014).
Keterangan yang dihimpun detikcom menyebutkan, insiden pembakaran kantor sekretariat Desa Curahkalak diketahui pertama oleh Mat Saleh (27), perangkat desa setempat, pagi tadi. Saat hendak masuk kantor, Mat Saleh mencium aroma benda terbakar dalam kantornya. Saat dilihat ke dalam, kobaran api ternyata sudah membakar bagian dalam ruangan Sekretariat.
Mat Saleh yang terkejut segera mengontak perangkat desa dan warga. Kepala Desa Curahkalak, Sukarwi (48) juga ikut datang. Menggunakan peralatan seadanya, mereka langsung berusaha memadamkan api. Amukan si jago merah berhasil dipadamkan sebelum menjalar ke ruangan yang lain.
Namun, sejumlah buku dan arsip desa, serta inventaris kantor desa hangus. Salah satunya seperangkat komputer ADD tahun 2012 lengkap dengan printer, meja dan kursi komputer. Kerugian material ditaksir Rp 6 jutaan, namun arsip desa dianggap tak bisa dinilai dengan rupiah.
"Kami belum mengetahui motif pembakaran itu. Polisi masih fokus melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelakunya. Masih memintai keterangan saksi-saksi," timpal Kasubbag Humas Polres Situbondo AKP Wahyudi.
(fat/fat)










































