Keberhasilan Nur Aini tidak diraih dalam sekejap. Ada beragam proses dilaluinya.
"Sejak ada wacana penutupan Bangunsari pada awal 2012, saya sudah belajar membuat kue kering dan basah. Ketika penutupan itu jadi dilakukan, saya ikut pelatihan yang diadakan Pemkot (Surabaya)," kenang Nur.
Nur adalah warga terdampak di Bangunsari IV. Dulu, ia mempunyai warung yang secara otomatis harus tutup karena penutupan lokalisasi Bangunsari. Namun penutupan itu justru membuatnya mendapatkan berkah berlimpah.
"Meski tak diberi modal oleh pemkot, saya dibantu peralatan memasak. Saya mulai bereksperimen masak dan Alhamdulillah banyak yang suka dengan hasil eksperimen saya," lanjut ibu dua anak ini.
Produk unggulan Nur yang diberinya label Dupak Makmur bersama (DMB) adalah udang kering dan brownies waluh (labu). Selain itu, Nur juga mengembangkan varian makanan lain seperti sambal dalam kemasan, bandeng bakar, otak-otak, stick tuna, aneka kue basah dan kering, dan lain-lain. Dalam hal omzet, usaha Nur cukup membanggakan. Dalam satu bulan, usaha tersebut bisa menghasilkan Rp 25-30 juta.
"Saya ajak mantan PSK ikut membantu saya. Dulu cukup banyak yang ikut, tetapi mereka sudah mentas, menjadi istri orang dan ikut suaminya," ujar Nur.
Saat ini, ada lima mantan PSK yang ikut dengannya. Para PSK tersebut sudah terampil dalam melakukan pengolahan makanan. Suatu saat nanti, para PSK tersebut bakal mandiri jika sudah ada modal.
"Mereka juga sudah mendapat orderan sendiri. Saya senang dan ikut membantu jika mereka ada orderan sendiri. Saya akan tetap bantu mereka hingga mandiri," terang Nur.
Lokalisasi Dupak Bangunsari ditutup pada 21 Desember 2012. Disusul lokalisasi Tambak Asri (Kremil) dan Moroseneng-Klakahrejo. Lokalisasi Dolly-Jarak ditutup, Rabu (18/6) kemarin.
(iwd/try)











































