"Karena sampai hari ini pemerintah tidak menghiraukan kita, tidak berpihak pada kepentingan rakyat, hajat hidup orang banyak. Dan ini juga bentuk rasa berduka, karena sampai saat ini pemerintah tidak punya hati nurani," ujar Anissa aktivis dari Front Pekerja Lokalisasi kepada detikcom di Dolly, Senin (16/6/2014).
Ia juga menyayangkan sikap Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yang dinilai ikut andil terlibat pada rencana penutupan lokalisasi Dolly dan Jarak, Surabaya.
"Kita sudah mengirimkan surat sampai ke dua kali ke Gubernur Jatim, untuk mendatangkan para pihak bertemu warga. Tapi sampai sekarang tidak ada," terangnya.
Anissa mengatakan, pemasangan bendera setengah tiang ini murni dari inisiatif warga lokalisasi, tidak ada instruksi dari FPL. Warga yang sudah bangun pagi, berinisiatif memasang bendera setengah tiang, dan diikuti warga lainnya yang juga sudah bangun pagi.
"Mulai pagi ini, kita terus memasang bendera setengah tiang. Pemasangan ini kita lakukan terus sampai perjuangan kita benar-benar membuat hati pemerintah tergerak. Karena sampai 2 hari menjelang rencana penutupan, statme pemerintah belum muncul yang berpihak pada masyarakat Dolly-Jarak. Justru intimidasi terhadap warga semakin tinggi," katanya.
Ia menambahkan, warga akan meningkatkan kewaspadaan di sekitar lokalisasi, menjelang rencana penutupan yang dilakukan Pemkot Surabaya.
"Penjagaan kita tingkatkan. Contohnya, bagi-bagi sembako dan uang yang dilakukan oknum Kecamatan Sawahan, itu laporan dari warga," tandasnya, sambil menambahkan, secara teknis berapa warga yang melakukan penjagaan di kawasan lokalisasi, tidak hafal jumlahnya.
(roi/fat)











































