Hoo Tong Bio Terbakar, Ini Cerita Satpam Klenteng

Hoo Tong Bio Terbakar, Ini Cerita Satpam Klenteng

- detikNews
Jumat, 13 Jun 2014 12:31 WIB
Hoo Tong Bio Terbakar, Ini Cerita Satpam Klenteng
Foto: Ardian Fanani
Banyuwangi - Penyebab kebakaran di Klenteng Hoo Tong Bio Banyuwangi saat ini masih diselidiki. Namun, bagaimana pengakuan seorang satpam yang menjadi orang pertama masuk ke lokasi utama titik api.

Dialah Abbas (61) warga Kelurahan Mandar. Pria yang sudah 14 tahun dipercaya menjadi satpam di tempat peribadatan itu menceritakan awal mula kebakaran terjadi ia ketahui dari warga sekitar.

"Saya tiba di posko satpam sekitar pukul 05.55 wib warga sekitar klenteng berteriak kebakaran langsung saya cek ke dalam ternyata bener. Lokasi titik api pertama di altar persembahyangan Dewa Bumi di sebelah selatan," ujar Abbas ditemui detikcom di pos satpam Klenteng Hoo Tong Bio, Jumat (13/6/2014).

Setelah mengetahui ada api kecil penyebab kebakaran, ia sempat berupaya memadamkan api dengan selang air PDAM. Namun upayanya yang juga dibantu beberapa umat klenteng gagal. Ia menuturkan jika damar kambang yang berisi minyak kelapa di altar Dewa Bumi pecah dan akibatkan api menjalar begitu cepat.

"Damar kambangnya pecah, mungkin karena terlalu panas, pecah jadinya. Minyaknya tumpah memenuhi altar selatan, akhirnya merambat kemana mana. Yang altar utara belum padam, udah merambat apinya ke selatan," imbuhnya.

Peristiwa kebakaran itu langsung Abbas laporkan ke pengurus Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hoo Tong Bio. Sontak laporan itu langsung diteruskan ke PMK dan stakeholder terkait. Namun ia juga sempat menyayangkan jika ada beberapa pihak yang dinilai lambat saat penanganan pemadaman api berlangsung.

"Sayang pemadamnya lambat, pemda kita hubungi tanggapnya cepet, tapi unitnya itu (mobil PMK) datangnya lama. Katanya sulit masuk kesini (Klenteng Hoo Tong Bio). Lha yang di sini udah keburu habis," tutupnya.

Kini, bangunan ibadah yang sudah berusia sekitar 200 tahunan itu luluh ludes tak bersisa. Sebanyak 4 prasasti peninggalan tahun 1784 dan 1857 ikut dilumat si jago merah. Angka tahun yang tertera di prasasti itu merupakan pertanda renovasi hasil sumbangan dari kapten asal China yang singgah di Bumi Blambangan. Total ada 33 patung dewa juga ikut terbakar di dalamnya.

(fat/fat)
Berita Terkait