Demikian pula patung-patung dewa yang berada di dalam Klenteng tak terselamatkan, termasuk patung asli Kongco Tan Hu Cin Jin. Sedikitnya 33 patung dewa yang musnah.
"Patung Kongco dan Dewi Kwan Im ikut terbakar, dan masih banyak lagi. Itu yang kita sesalkan sebab patung itu mulai adanya Klenteng ini," ujar Peng Gie, Kepala Seksi Peribadatan Klenteng, kepada detikcom, Jumat (13/6/2014).
Informasi yang diperoleh detikcom, terdapat 4 prasasti yang usianya sekitar 200 tahun lebih. Yang paling tua tahun 1784 dan 1857 berupa plakat berbahan kayu yang ditempatkan di sekitar pintu masuk klenteng kini tak lagi tersisa.
Tahun tersebut menunjukkan renovasi dari Klenteng Hoo Tong Bio. Dan prasasti itu merupakan sumbangan dari kapten kapal china yang singgah di Banyuwangi.
Pengurus dan umat Tri Dharma yang mendatangi lokasi kebakaran tak sedikit yang meneteskan air mata saat melihat si jago merah melumat tempat persembahyangan mereka.
Setelah api padam pukul 08.00 Wib, mereka bergegas mencari sisa-sisa patung yang masih bisa diselamatkan. "Hanya (patung) replika yang ada. Soalnya patung asli terbuat dari kayu. Kita sangat merasa kehilangan," tambah Peng Gie sembari menangis.
Tidak hanya pengurus dan umat Tri Dharma saja yang merasa kehilangan. Warga sekitar klenteng di Jalan Ikan Gurami, Kelurahan Karangrejo, juga merasa sedih dengan terbakarnya bangunan yang didominasi warna merah ini.
"Saya sudah menyiapkan buku untuk klenteng ini. Sudah 2 tahun saya melakukan penelitian karena klenteng ini merupakan cagar budaya Banyuwangi juga," ujar Ika, salah satu penulis Banyuwangi, yang ikut datang ke lokasi.
Pemadaman api yang membara sejak pukul 06.00 Wib itu berlangsung dramatis. Warga dan petugas pemadam kebakaran bahu membahu menaklukkan api.
(gik/gik)











































