Seperti Bu Dwi Warni (50) yang sebelumnya menjadi buruh cuci wisma, mengaku ingin meninggalkan pekerjaannya dengan merintis wirausaha berjualan sayur mayur.
"Saya dari wisma sebulan Rp 125 ribu per PSK. Dan dulu di 1 wisma bisa ada 17 anak. Sekarang saya sudah mencoba berjualan selama sebulan dengan rombong sendiri. Saya mendapat bantuan modal dan rombong untuk jual keliling. Yang penting cukup untuk uang saku anak sekolah dan kebutuhan sehari-hari," kata Dwi, warga RT 5 RW 12 Kelurahan Putat Jaya kepada detikcom, Senin (9/6/2013).
Hal senada diungkapkan, Fitriana yang juga mendapat bantuan mesin cuci untuk usaha laundry.
"Ya kami sangat mendukung penutupan kalau pemberian bantuan seperti benar-benar ada. Apalagi kalau hanya ditutup kemudian dibiarkan itu kan namanya tidak bertanggungjawab. Tapi dengan mendapat bantuan seperti ini saya bisa terus melanjutkan hidup," ujar Fitriana, warga Putat Jaya Timur yang mendapat bantuan 4 unit mesin cuci.
Tak hanya itu, pemerintah kota juga memberdayakan warga terdampak untuk dipekerjakan sebagai anggota Linmas. Seperti M Gufron yang sebelumnya bekerja sebagai mucikari.
Sementara Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini meminta kepada warga terdampak tidak perlu mengkhawatirkan tidak akan berhasil usai ada upaya alih fungsi lokalisasi.
"Anda harus yakin bisa. Untuk bapak yang menjadi linmas. Jangan khawatir, ibunya yang di rumah serahkan ke kami biar kami latih dan beri pelatihan, buktinya sudah banyak. Bahkan ada mantan mucikari di Dupak Bangunsari itu sekarang sudah kewalahan menerima pesanan batik," ujar Risma.
(fat/fat)











































