"Katanya dulu sarana (jalan) yang mau dipakai itu mau dibangun dulu. Kenyataannya mulai awal sampai sekarang jalan ini belum tersentuh sama sekali," keluh Haryono (48) kepada wartawan di lokasi.
Memang, lanjut Haryono, jalan yang masih berlapis batu dan pasir saat ini sudah tidak dipakai untuk jalur transportasi proyek. Ini seiring selesainya pembangunan PLTU Sudimoro. Namun dampak kerusakan masih dirasakan warga.
Seperti kondisi becek saat hujan maupun berdebu saat kemarau. Di lain sisi, akses kendaraan menuju pembangkit listrik raksasa itu sudah menggunakan jalan permanen yang ada.
Haryono bersama puluhan warga lain tetap mendesak pengelola membenahi jalan sepanjang 1 Km. Ini karena jalan tersebut memiliki peran vital bagi warga untuk menuju lahan pertanian maupun ke hutan. Tuntutan lainnya agar dalam rekruitmen tenaga kerja perusahaan juga melibatkan masyarakat sekitar.
Aksi blokade itu langsung menyita perhatian Bupati Pacitan Indartato turun ke lokasi. Orang nomor satu di Kota 1001 Gua itu menemui warga yang berkumpul di lokasi sejak pagi. Usai mendengarkan laporan warga, bupati berjanji membantu menyelesaikan persoalan tersebut. Rencananya, pemkab akan menggelar pertemuan bersama pihak PLTU dan jajaran terkait, Senin (9/6).
"Akan segera kita musyawarahkan untuk mencari solusinya. Kasihan masyarakat kalau kondisinya seperti ini. Memang ada kesanggupan dari pihak PLTU untuk membenahi, tapi secara tertulis kan belum ada," ujar Bupati Pacitan Indartato ditemui usai berdialog dengan warga.
Pantauan detikcom, hingga aksi selesai blokade berupa 2 unit drum dengan palang kayu ditengahnya masih tampak melintang dan menutup separuh jalan. Di bentangan kayu terdapat tulisan "Jalan ke PLTU Ditutup." Hal itu menyebabkan kendaraan besar tidak dapat melintas. Hanya kendaraan kecil dan sepeda motor yang masih tampak berlalu-lalang. Warga bertekad terus memblokir jalan hingga tuntutan mereka dipenuhi.
(fat/fat)











































