Menurut Heru, kedua napi menempati ruang sel yang sama di blok B lapas Mojokerto. Ironisnya, sel tersebut tidak dilengkapi besi pengaman pada bagian plafonnya. Ditambah lagi, terdapat lubang pada papan kayu di balik plafon yang seharusnya menjadi pengaman. Sehingga menjadi jalan keluar bagi kedua napi.
"Ada lubang pada papan kayu, papan kayu ini seharusnya menempel ke tembok, ternyata tidak. Kalau sel lainnya ada besi pengaman dibalik plafonnya, kebetulan sel ini tidak ada," jelas Heru kepada detikcom saat ditemui di kantornya, Senin (19/5/2014).
Selain itu, menurut Heru, letak bangunan sel dengan masjid lapas menempel. Sementara bangunan masjid dengan kantor lapas juga berhimpitan. Sehingga, usai membobol plafon dan genteng sel, kedua napi kabur dengan melompat ke atap masjid dan kantor lapas.
"Atap kantor lapas berhimpitan dengan tembok luar lapas, sehingga memudahkan untuk akses keluar kedua napi ini," ungkapnya.
Faktor lainnya menurut Heru adalah kurangnya jumlah sipir. Setiap harinya, jumlah sipir yang berjaga hanya 5 orang. Padahal jumlah penghuni lapas mencapai 497 orang. "Kami akui ini sebuah kesalah, jumlah petugas jaga sangat kurang dibandingkan jumlah napi," imbuhnya.
Saat kedua napi kabur, Heru mengaku petugas jaga tidak ada yang tahu. Padahal jarak antara sel kedua napi dengan pos jaga hanya 15 meter. "Jarak sel dengan petugas jaga 15 meter, posisi sel membelakangi pos komandan jaga, sehingga tidak ada yang tahu. Kalau napi di ruang sel yang bersebelahan kemungkinan besar tahu," pungkasnya.
Sebelumnya, dua narapidana (napi) kabur dari lembaga pemasyarakatan (Lapas) kelas 2B Mojokerto yang berlokasi di Jalan Taman Siswa, Kota Mojokerto, Minggu (18/5) malam. Mereka adalah Andy Purwanto (27) napi kasus penipuan, dan Endik Prasetyo (39), napi kasus narkoba. Keduanya kabur dengan cara menjebol atap ruang sel.
(fat/fat)










































