Kampung Wisata Coklat Ini Diminati Turis

Kampung Wisata Coklat Ini Diminati Turis

- detikNews
Minggu, 18 Mei 2014 10:54 WIB
Kampung Wisata Coklat Ini Diminati Turis
Coklat made in kampung wisata ini tak kalah dengan pabrik modern/Irvant
Blitar - Salah satu komoditi kebanggaan Kabupaten Blitar adalah kakao. Bahan baku coklat ini sudah mulai dibudidayakan sejak tahun 2000 silam. Hasilnya, Blitar menjadi salah satu penghasil kakao nomer wahid dari sisi kualitas.

Nah jika berkunjung ke Blitar, jangan lupa mampir di kampung wisata kakao dan coklat. Dijamin, pecinta coklat akan dimanjakan dengan suguhan aneka makanan dan minuman dari coklat yang lezat.

Adalah Arif Zamroni, petani sekaligus Ketua Asosiasi Petani Kakao Nasional yang merintis usaha ini. Beralamat di Desa Plosorejo Kecamatan Kademangan, Arif memulai usaha makanan dan minuman dengan bahan dasar coklat tersebut.

Produk yang ditawarkan diantaranya coklat batangan, permen coklat, aneka minuman coklat, hingga kue coklat. Tidak hanya itu, wisatawan bisa langsung melihat perkebunan coklat sambil bermain di perkebunan yang teduh.

Proses pengolahan kakao hingga menjadi coklat pun bisa disaksikan dengan ditemani pemandu. Di dapur pengolahan pun anda juga melihat proses memasak, hingga menjadi coklat siap disantap.

"wisatawan leluasa belajar dengan melihat dan mencoba cara membuat coklat," kata Arif, Minggu (18/5/2014).

Maka tak heran, usaha dengan konsep kampung wisata ini langsung mendapatkan perhatian luas baik wisatawan domestik maupun manca negara.

Tercatat, banyak wisatawan dari Australia, China, Swiss, Belanda dan Amerika pernah berkunjung dan menikmati coklat made in kampung wisata Arif.

"Kami ingin mengembangkan kampung wisata. Semua yang datang ke sini, selain belanja, rata-rata ingin melihat proses pengolahan coklat," tambah Arif.

Arif menambahkan, potensi yang dimiliki Kabupaten Blitar untuk mengembangkan coklat sangat besar. Setidaknya, ada hampir 4 ribu hektar lahan yang sudah ditanami kakao.

"Ini adalah potensi yang luar biasa. Kita harus mengembangkan coklat sebagai ikon Kabupaten Blitar. Semua sarana pendukung kita sudah lengkap," lanjut Arif sambil menunjukkan lahan kakao yang luas.

Ia pun menjamin, ketersediaan bahan pembuatan coklat. Karena hampir setiap bulan, UD. Guyub Santoso yang ia bina, membenihkan sekitar 1 juta benih siap tanam.

Hingga saat ini, pemasaran produk-produk makanan olahan dari coklat tersebut, sudah merambah Malaysia dan China. Sementara untuk dalam negeri, Arif mengaku kuwalahan memenuhi permintaan dari Surabaya, Bali, Yogyakarta, Jakarta, dan Batam.

"Luar biasa sekali permintaannya. Jika Anda membandingkan dengan rasa coklat yang dijual di supermarket, kami jamin rasanya sama, namun harganya jauh lebih murah di sini," jelas Arif.

Selisih harga yang ditawarkan Arif bisa mencapai Rp 5.000 untuk varian coklat kemasan, dibanding dengan coklat yang sudah terkenal, dengan ukuran yang sama.

"Saat ini produk kami sudah bisa ditemukan di beberapa bandara internasional, seperti Juanda, Adi Sumarno dan beberapa bandara lain. Selain itu kami sudah bekerjasama dengan banyak hotel," terangnya.

(gik/gik)
Berita Terkait