Faisal Basri: Daya Saing Daerah Kunci Menangkan MEA

Faisal Basri: Daya Saing Daerah Kunci Menangkan MEA

- detikNews
Minggu, 11 Mei 2014 18:02 WIB
Faisal Basri: Daya Saing Daerah Kunci Menangkan MEA
Surabaya - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyatakan, daerah harus memacu daya saing untuk bisa membawa Indonesia memenangkan pasar dalam ASEAN Economic Community (Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA).

"Sekarang ini trennya harus kuat di daerah. Ada pemikiran bagus dari Benjamin Barber di buku If Mayors Ruled the World. Justru pilar sekarang ada di bupati, walikota, dan gubernur yang bekerja. Daya saing daerah ini modal penting agar Indonesia menang di pentas global, karena kuncinya memang di daerah," kata Faisal dalam seminar ekonomi yang digelar BEM ITS, Surabaya, Minggu (11/5/2014).

Di Indonesia saat ini, lanjut Faisal, sudah ada tren menggembirakan. Beberapa daerah mempunyai pemimpin yang bisa membuat perbedaan dan banyak berinovasi.

"Ada Bupati Banyuwangi, Bupati Bantaeng, Walikota Surabaya, Walikota Bandung, Gubernur DKI. Ini ke depan kalau presidennya bagus, bisa ngebom dari atas dan bawah kuat, Indonesia bakal kuat. Saya berharap makin banyak pemimpin bagus di daerah," tegas Faisal.

Pria kelahiran Bandung ini mencontohkan bagaimana kebijakan proteksi Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam peningkatan daya saing produk lokal Banyuwangi seperti hortikultura buah. Semisal, pengembangan daya saing komoditas hortikultura dilakukan dengan pembenihan unggul dan fasilitasi akses pasar dari petani ke penjual secara langsung di kota-kota besar.

"Ini bisa mengerem ekspansi hortikultura buah impor yang sekarang gila-gilaan. Coba lihat sekarang jeruk mandarin lebih marak dibanding jeruk lokal. Saya senang jika ada kepala daerah memikirkan ini dan bertindak tepat uintuk membantu petani meningkatkan daya saing," tutur pria berdarah batak itu dengan antusias.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang juga menjadi pembicara dalam seminar itu sepakat jika daerah adalah pilar ekonomi nasional. "Sesungguhnya kesiapan nasional dalam menghadapi MEA adalah refleksi kesiapan daerah. Daya saing harus ditingkatkan agar kita tidak jadi tamu di negeri sendiri. Saat ini daya saing masih jadi faktor yang mengkhawatirkan kita dalam menghadapi MEA. Daya saing ini harus terintegrasi karena daya saing terbentuk dari dukungan kebijakan, infrastruktur, kelembagaan, kualitas SDM, dan sebagainya," ujarnya.

Dia mencontohkan salah satu kebijakan proteksi buah impor di Banyuwangi sebagai salah satu langkah keberpihakan pada hortikultura lokal. Di Banyuwangi, ia melarang penyajian buah impor dalam setiap acara mulai dari level RT/RW sampai kabupaten. Disamping itu, Bupati Anas juga mendorong pengembangan produktifitas manggis di Banyuwangi.

Berkat pengembangan yang intensif, produksi manggis dari Banyuwangi meningkat pesat. Luas panen manggis di kabupaten tersebut pada 2013 mencapai 1.590,5 hektar, meningkat sekitar 130 persen dibanding 2012 sebesar 691,54 hektar.

Produksi manggis 2013 mencapai 20.199 ton, melonjak sekitar 132 persen dibanding capaian 2012 sebesar 8.651 ton.

"Bahkan, manggis kita sudah di ekspor ke Thailand, Tiongkok, Singapura, dan beberapa negara Timur Tengah," kata Anas ditemui detikcom dilokasi yang sama.

Demikian pula komoditas lain seperti buah naga, jeruk, dan durian terus dikembangkan. Di bidang produksi tanaman pangan, tiap tahun Banyuwangi masih surplus sekitar 200 ribu ton.

"Sektor pertanian ini kita proteksi dan kembangkan betul daya saingnya. Produksi padi kita naik jadi 792.000 ton tahun 2013, dari posisi sekitar 750.000 ton pada 2012. Kita siapkan lahan abadi 80.000 hektar untuk pertanian padi untuk melawan konversi lahan," tandasnya.

(bdh/bdh)
Berita Terkait