Siswa SD di area gempa juga terpaksa diungsikan keluar kelas. Mereka belajar di bawah tenda-tenda yang didirikan Pusdalops BPBD Situbondo untuk pengungsian.
"Hari ini aktivitas belajar SDN 6 Kedunglo terpaksa tidak dilakukan dalam kelas. Tetapi dipindah ke tenda pengungsian, untuk menjaga kemungkinan terburuk. Pukul 00.03 dini hari tadi, kekuatan gempa sudah mencapai 4,3 skala richter," kata Yahya Maziun kepada detikcom, Jumat (9/5/2014)
Sekretaris BPBD Situbondo itu menuturkan, intensitas gempa di Desa Kedunglo Kecamatan Asembagus tampaknya juga terus meningkat. Sejak dua hari terakhir hingga pukul 04:44 tadi, tercatat sudah terjadi sedikitnya 85 kali gempa.
Dari gempa-gempa tersebut, sebagian getarannya dapat dirasakan langsung oleh warga. Dari seluruh aktivitas kegempaan tersebut, gempa berkekuatan 4,3 Skala Richter (SR) yang terjadi pukul 00:03:43 dini hari tadi itu menjadi yang terbesar.
"Getaran gempa berkekuatan 4,3 SR itu sangat terasa dan menimbulkan suara gemuruh. Warga ketakutan dan berhamburan ke tempat-tempat terbuka," kata Ipong, personil Pusdalops BPBD Situbondo yang siaga dilokasi gempa.
Tidak ada kerusakan berarti yang ditimbulkan getaran gempa 4,3 SR dini hari tadi. Hanya saja, sebagian rumah-rumah warga, tempat ibadah, dan gedung sekolah, mengalami retak-retak. Meski begitu, warga tetap diimbau untuk lebih waspada.
"Terkait sampai kapan anak-anak sekolah belajar di tenda pengungsian, kami masih menunggu petunjuk dari petugas BMKG Tretes yang ada di lokasi," pungkas Yahya Maziun.
Sebelumnya, gempa tektonik dengan skala kecil terus mengguncang wilayah Desa Kedunglo, Kecamatan Asembagus. Warga terus didera resah hingga banyak yang enggan tidur di dalam rumahnya.
Petugas dari BMKG Tretes terus disiagakan di Desa Kedunglo untuk melakukan pemantauan terhadap aktivitas gempa. Aktivitas gempa itu diduga akibat pecahnya lempengan kapur dalam bumi, hingga menimbulkan dentuman dan suara gemuruh.
(fat/fat)











































