TKW 27 tahun ini masih dalam kondisi koma dan langsung dibawa ke ruang Instalasi Rawat Darurat (IRD). Kedatangan Sihatul Alfiyah atau biasa di panggil Uul ini, dikawal oleh UPT Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (UPT P3TKI) Jawa Timur, Kantor Dagang dan Ekonomi perwakilan Taiwan, Perwakilan Departemen Luar Negeri dan 3 dokter dari Taiwan yang mengawal selama perjalanan dari Taiwan ke Banyuwangi.
Tim dokter dari Taiwan langsung berkoordinasi dengan tim medis RSUD Blambangan Banyuwangi. Sebab ibu satu anak ini hidupnya tergantung pada peralatan medis.
Sutiah, ibu dari Uul mengaku shock melihat putrinya yang sudah 2 tahun tidak berjumpa dengan dengan dirinya ini. Namun wanita 50 tahun ini mengaku bahagia bisa bertemu kembali dengan anaknya meski anaknya terbaring tak berdaya.
"Saya bersyukur meski kondisinya seperti ini. Mudah-mudahan di Banyuwangi Uul bisa sembuh," ujarnya kepada detikcom, Rabu (7/6/2014).
Menurutnya, saat ini dirinya bersama dengan keluarga mengaku lega atas kepulangan Uul. Meski harus menjaganya di rumah sakit.
"Yang penting Uul pulang. Dan disini ada yang merawat. Kalau di Taiwan jauh dengan keluarga," tandasnya.
Sementara itu, Noerman Adhiguna, Perwakilan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia di Taiwan mengaku sudah berupaya maksimal mengurus Sihatul sejak berada di Taiwan hingga tiba di Banyuwangi. Menurutnya kasus hukum majikan Sihatul bisa saja di proses. Namun pihaknya tidak bisa memaksa suami Uul, Suhendik, untuk menuntut secara hukum. Suhandik memilih tidak menuntut sang majikan dan memulangkan Sihatul dari Taiwan.
"Sebenarnya bisa saja keluarga Uul melakukan penuntutan terhadap majikannya, tapi keluarga minta dipulangkan saja dan tidak menuntut majikannya," ujar Noerman.
Selain menyerahkan sepenuhnya kepada Pemkab Banyuwangi dan keluarganya, kata Noerman, majikan Uul juga menyerahkan bantuan sebesar NT 280 ribu atau setara dengan Rp 106 juta.
"Ada bantuan dari majikannya untuk perawatan Sihatul di Banyuwangi yang diserahkan," tandasnya.
Sihatuk Alfiyah adalah pahlawan devisa yang menjadi korban kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan majikannya di Taiwan. Perempuan asal Desa Plampangrejo, Kecamatan Cluring ini dipekerjakan merawat dan memerah sapi di Liouying, Distric Tainan, Taiwan sejak September 2013 lalu. Sihatul koma lantaran pukulan benda tumpul di kepala bagian belakang, imbas dari siksaan majikannya.
(iwd/iwd)











































