Bantuan yang diberikan berupa 10 traktor, 1 alat pembuat pupuk, 400 paket bahan pokok.
Acara berlangsung hangat dan sederhana. Dalam sambutannya, Kepala Desa Kebonrejo, Lugito menyatakan jika saat ini kondisi mereka masih sangat memprihatinkan.
"Kami tidak bercita-cita menjadi pengemis. Namun letusan Gunung Kelud mau tidak mau membuat kami harus meminta-minta," ucap Lugito dengan tatapan kosong.
Lugito pun menyampaikan, jika banyak warga yang terlilit hutang kepada bank. Saat bercocok tanam dari hasil pinjaman bank, tanaman mereka habis ludes terkena abu vulkanik Gunung Kelud.
"Hingga saat ini kami hanya bisa bertahan hidup, bukan mengembalikan ekonomi. Hanya itu yang kami bisa. Saat letusan Gunung Kelud, seluruh tanaman kami ludes. Musnah semua. Padahal itu (pertanian) adalah hasil meminjam bank," lanjut Lugito.
Dalam sambutannya, Ferial Saad Hadi, perwakilan KBRI Singapura yang menjadi salah satu donator, menyampaikan keprihatinannya atas kondisi yang terjadi di masyarakat. Ia pun berharap, agar bantuan yang diberikan bermanfaat dan lambat laun kehidupan masyarakat akan kembali normal.
"Kami sangat prihatin atas bencana yang menimpa di desa ini. Semoga bantuan ini bisa meringankan beban saudara-saudara sekalian. Insya Allah dibalik cobaan ini tersimpan hikmah yang akan kita petik kelak," kata Ferial.
Usai acara seremonial, Nyonya Anita Tanjung dan rombongan memberikan bantuan secara simbolik kepada korban bencana Kelud, yakni 400 paket kebutuhan pokok kepada 10 perwakilan warga dan 10 traktor serta 1 buah penggiling pupuk untuk kelompok tani Tani Mulyo.
Perwakilan warga pun sangat senang mendapatkan bantuan tersebut. "Kami merasa seperti kejatuhan bulan mendapatkan bantuan ini. Kami sangat senang sekali. Terima kasih Transmedia," ujar Adib, salah satu petani.
(bdh/bdh)










































