"Kinerja menteri pendidikan sangat buruk," kata M Zahid, koordinator aksi mahasiswa di Universitas Brawijaya, Jumat (2/5/2014).
Dia mengungkapkan, buruknya sistem pendidikan terbukti dari carut marut pembagian Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), biaya pendidikan mahal hingga pelaksanaan kurikulum baru.
"Jadi bisa dikatakan, prestasi pendidikan justru menurun saat ini. Dibuktikan dalam Indeks Pembangunan Pendidikan Untuk semua (education For All) dimana posisi Indonesia turun dari posisi ke 65 ke posisi 69 dari 127 negara," ungkapnya.
Dia menambahkan, permasalahan lain adalah tingginya jumlah anak putus sekolah mencapai 31,05 juta anak sekolah dasar putus sekolah.
"Belum lagi dengan pelanggaran oleh tenaga pengajar. Mulai dari kekerasan atau pelanggaran moral, seperti kasus asusila," jelasnya.
Dalam aksinya, mahasiswa juga membakar spanduk yang dibawa selama aksi.
Sementara aksi demo mahasiswa di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, juga mengkritik kebijakan pendidikan nasional.
Aksi lain dari Suara Mahasiswa Peduli Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Maliki Malang memprotes kebijakan rektor.
Seperti perpanjangan izin Studi Pendidikan Agama Islam yang telah habis, penyesuaian mata kuliah yang menurut mereka saat ini belum tepat, serta permintaan agar lulusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) bisa mendaftar CPNS.
"Keinginan kami kemenag melakukan banding ke kemendiknas supaya lulusan PGMI bisa daftar CPNS," ujar korlap aksi Abeng Pupu Tarbuhawa di aksi terpisah.
(bdh/bdh)











































