"Saya minta langsung one on one business meeting. Tadi sudah dicontohkan, peningkatan volume perdagangan antar pulau langsung dilakukan seperti Pak Is (pengusaha kopi di Jatim) dengan Provinsi Bengkulu. Garam untuk industri langsung dari NTB," kata Gubernur Jatim kepada wartawan di acara Rapat Koordinasi Bidang Perekonomian Provinsi Indonesia di Hotel Meritus Surabaya, Selasa (11/4/2014).
Katanya, model one on one business meeting melibatkan semua pihak antara pemerintah dan pengusaha melalui Kamar Dagang Indonesia (Kadin) daerah masing-masing. Dengan mengumpulkan setiap provinsi yang memiliki potensi apa saja yang bisa diperdagangkan, serta sebaliknya provinsi lainnya menginginkan bahan baku apa saja tanpa perlu mengimpor dari luar negeri.
Gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini menerangkan, melalui one on one business meeting, dapat membicarakan setiap permasalahan yang ada dengan memangkas ongkos yang mahal melalui informasi yang didapatkan melalui e-commerce.
"Ada meja-meja yang dipersiapkan dari keunggulan produk dan potensi setiap provinsi, bukan hanya sekedar rapat tanpa menghasilkan sesuatu bagi daerah," tuturnya.
Soekarwo menambahkan, standarisasi di pasar dalam negeri juga harus ditingkatkan sehingga menjadi kuat.
"Kalau pasar dalam negeri kita kuasai, rupiah kita tidak tergganggu karena neraca perjalanan kita tidak defisit berarti kita punya cadangan devisa kuat," terangnya.
Menurutnya, jaringan atau koneksi antar daerah perlu ditingkatkan bisa melalui webside dalam rangka memberikan informasi setiap produk unggulan masing-masing daerah.
"Jatim akan mengkoneksi sampai Papua, tetapi tetap kita minta daerah tertentu menjadi leading tertentu. Jangan semua dikoordinasi di Jawa Timur, itu menimbulkan tidak bagus dalam psikologi tradingnya," tandasnya.
(roi/bdh)











































