"Saya diminta untuk mencabut laporan, kalau tidak saya akan diancam akan dibunuh," kata Ismawati, kepada wartawan, Jumat (7/3/2014).
Ibu satu anak yang tengah mengandung empat bulan ini menyatakan, hampir setiap hari ia diteror penelpon gelap dan mengancamnya. Penelpon gelap tersebut, kata dia, sengaja menyembunyikan nomornya. Teror tersebut ia terima pada siang dan malam hari sehingga ia merasa tertekan dan ketakutan.
Karena ketakutan ia mengaku takut untuk kembali ke rumahnya di Dusun Benculuk Desa Cobanjoyo Kecamatan Kejayan. "Saya dan anak saya dan mertua saya tidak pulang rumah," ujar Ismawati.
Teror serupa ternyata tak hanya diterima oleh Ismawati. Seorang tokoh masyarakat setempat yang selalu mendampingi Ismawati selama ini termasuk saat melapor ke Propam, Habib Abdulah Husein Al-Hamid, mengaku juga mendapat teror serupa.
"Ya hampir setiap hari. Dia mengancam saya, sambil berkata kasar," kata pria yang biasa dipanggil Habib.
Meski begitu, ia mengaku tidak takut dan akan selalu membantu perjuangan warganya, Ismawati untuk mendapatkan keadilan.
Ismawati memang sudah melapor ke Propam Polda Jatim atas tindakan anggota Polres Pasuruan yang diduga telah menyalahi prosedur hingga menyebabkan suaminya tewas. Setelah datang ke rumah Saeri di Dusun Benculuk, Desa Cobanjoyo, Kecamatan Kejayan dan meminta keterangan dari beberapa saksi, kasus tersebut akhirnya dilimpahkan ke Propam Polres Pasuruan.
"Kemarin saya diminta untuk menceritakan kembali kronologis saat suami saya dijemput oleh polisi," kata Ismawati didampingi kuasa hukumnya, Andi Faisal.
Sebelum melapor ke pihak Propam, Ismawati juga sempat mengadukan permasalahan tersebut ke DPRD Kabupaten Pasuruan. Namun, hingga saat ini tak ada tindak lanjut.
Seperti diberitakan, Saeri ditembak mati Tim Buser Polres Pasuruan. Menurut keterangan polisi, Saeri adalah DPO kasus perampokan yang sudah lama dicari dan terpaksa ditembak mati karena melawan petugas dengan celurit dan bondet saat ditangkap.
(bdh/bdh)










































