Kepala Pusat Studi Kebumian, Bencana dan Perubahan Iklim LPPM ITS, Amien Widodo usai workshop Penataan Ruang Kawasan Patahan Aktif, mengaku sebenarnya para orang tua sudah membuat desain rumah yang gentingnya tidak rusak saat terjadi abu vulkanik.
Konstruksi atap bangunan yang berdekatan dengan gunung aktif memiliki ketinggian dan kemiringan minimal 45 derajat, agar atap tidak ambruk saat terkena abu vulkanik.
"Orang-orang tua kita sebenarnya sudah memiliki desain itu. Tapi bangunan masa kini justru memilih atap datar yang lebih rentan saat terjadi hujan abu dan kerikil vulkanik," kata Amien Widodo di ITS, Selasa (25/2/2014).
Dari pantauannya di Desa Puncu Kabupaten Kediri pasca erupsi Gunung Kelud, bahwa bangunan rumah warga yang beratap datar mengalami kerusakan. Sedangkan yang beratap lancip dan miring tidak mengalami kerusakan.
"Jika lancip dan kemiringannya membuat abu langsung turun. Kalau atapnya datar, abu menumpuk. Akhirnya ambruk atapnya," ujarnya.
Ia berharap, rekonstruksi rumah warga yang dilakukan pemerintah tidak hanya sekedar menyumbang genting. Namun juga menerapkan standar bangunan yang sesuai dengan tata ruang kawasan bencana serta diharapkan bisa menjadi syarat mendapatkan IMB.
(fat/fat)










































