Kesulitan Beli Solar, Nelayan Situbondo Mengamuk di SPBU

Kesulitan Beli Solar, Nelayan Situbondo Mengamuk di SPBU

Ghazali Dasuqi - detikNews
Selasa, 18 Feb 2014 16:31 WIB
Kesulitan Beli Solar, Nelayan Situbondo Mengamuk di SPBU
Foto: Ghazali Dasuqi
Situbondo - Aturan yang membatasi pembelian bahan bakar untuk para nelayan, membuat para nelayan di Situbondo geram, Selasa (18/2/2014). Puluhan nelayan pun nekat melabrak dan nyaris bikin kisruh di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di tepi jalan raya Desa Wringinanom Kecamatan Panarukan. Mereka memaksa membeli solar untuk keperluan melaut.

Sambil berteriak-teriak, para nelayan dari pesisir Desa Kilensari Kecamatan Panarukan itu meminta karyawan SPBU setempat untuk mengisi seluruh jerigen yang dibawanya dengan solar. Jika tidak, para nelayan mengancam akan melakukan tindakan anarkhis. Ancaman itu sempat membuat karyawan SPBU ketakutan.

"Masak nelayan harus mendapatkan rekomendasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) untuk dapat jatah solar. Kami sudah seminggu tidak melaut gara-gara tidak dapat rekomendasi. Makanya kalau jerigen ini tidak diisi, kami akan bakar SPBU ini," teriak seorang nelayan.

Saat bersamaan, petugas SPBU setempat tidak bisa menuruti kemauan para nelayan. Sebab, rekomendasi yang dibawa mereka hanya berasal dari kantor Desa Kilensari, bukan dari DKP Situbondo. Beruntung, seorang tokoh nelayan segera datang dan meredam kemarahan para nelayan. Sang tokoh, H Nanang Kosim meminta agar DKP Situbondo lebih bijaksana memberikan rekomendasi BBM untuk kepentingan para nelayan.

"Kami sudah berusaha meminta rekomendasi, tapi seperti dipingpong sama staf DKP. Kami di suruh ke Besuki, dari Besuki disuruh ke Panarukan. Apa mau mereka sebenarnya. Ingat ini berkaitan dengan perut orang banyak. Pemerintah harus turun tangan untuk masalah ini," desak H Nanang.

Menurut dia, saat ini ada sekitar 80 kapal motor nelayan yang saat ini kesulitan mendapatkan solar. Sehingga hampir semingguan ini para nelayan tidak bisa bekerja melaut. Kebutuhan bahan bakar untuk kapal motor itu antara 150 - 200 liter solar dalam sekali melaut.

Manajer SPBU setempat, Murtiningsih menegaskan, pihaknya bukan tidak mau melayani para nelayan. Tetapi hanya berusaha mengikuti aturan dimana para nelayan harus membawa rekomendasi dari DKP untuk mendapatkan kebutuhan bahan bakarnya. Jika tidak, maka pihak SPBU yang akan kena sanksi dari pertamina, atau bahkan ijin operasinya akan dicabut sama pemerintah daerah.

"Karena itu, kami harap para nelayan paham dengan posisi SPBU. Kalau sampai ijinnya dicabut, tentu para nelayan juga akan semakin kesulitan mendapatkan bahan bakar. Syukur saja, para nelayan akhirnya mau mengerti dan memaklumi sikap kami," timpal Anton Agus Rejeki, Humas SPBU setempat.

(bdh/bdh)
Berita Terkait