Alumnus ITS Ciptakan Alat Lumpuhkan Abu Panas Gunung Api

Alumnus ITS Ciptakan Alat Lumpuhkan Abu Panas Gunung Api

- detikNews
Jumat, 07 Feb 2014 18:55 WIB
Alumnus ITS Ciptakan Alat Lumpuhkan Abu Panas Gunung Api
Ir Jaya Laksana menunjukan gambar ciptaannya/Zainal E
Surabaya - Aktivitas erupsi gunung api sebelum memuntahkan lava panas selalu diawali dengan abu panas. Dampak abu panas ini membuat jatuhnya korban baik tanaman pertanian masyarakat hingga korban jiwa.

Melihat hal itu, seorang warga Surabaya Ir Jaya Laksana, mempunyai ide agar tak jatuh korban dan kerugian akibat awan atau abu panas dari erupsi gunung api. Alumnus ITS ini pun menciptakan alat yang dinamakan Bernoli Water Sprayer.

"Saya tersirat, masa tidak bisa atasi ini," katanya kepada wartawan di rumahnya di kawasan Pucang Surabaya, Jumat (7/2/2014).

Menurutnya, alat yang diciptakan berguna menyemprotkan air bertekanan tinggi ke arah awan panas agar tidak jatuh korban dan merugikan pertanian warga sekitar.

"Panasnya wedus gembel jika disemprot pasti debu akan turun serta panasnya juga turun. Karena akan disemprot air secara terus menerus dengan menggunakan air yang kita ambil dari laut," imbuhnya.

Caranya, alumus ITS jurusan Teknik Mesin 1975 ini membeberkan jika alat yang sudah di patenkan hanya membutuhkan pipa, pompa air bertekanan tinggi serta nozle spray.

"Jadi akan kita pasang pipa yang akan mengalirkan air dari laut menuju ke dekat bagian puncak gunung. Diatas akan kita beri pompa yang harus bertekanan tinggi dan disemprot ke abu panas. Dan disana harus terpasang banyak serta diusahakan spray nya air menyebar dan mengenai debu panas yang dikeluarkan gunung," ungkap Jaya.

Jaya juga yakin idenya akan berguna dana akan digunakan pemerintah. Karena sebelum mematenkan, ia sudah berkonsultasi dengan para ahli maupun guru besar dibidang geologi.

"Ini teori bukan sembarang teori. Ini teori yang bisa dipertanggungjawabkan. Saya sudah bicara dengan salah satu guru besar ITS mereka salut termasuk salah satu staf ahli kementerian ESDM juga menyatakan bahwa teori dan ide saya bisa digunakan," tegas dia.

Meski sudah dipatenkan, namun Jaya tidak mempermasalahkan jika nantinya teorinya digunakan tanpa ada izin. "Kalau digunakan tidak diakui tidak masalah. Yang penting teori saya ini berguna dan dapat menghindarkan jatuhnya korban maupun kerugian pertanian," pungkasnya.

(bdh/bdh)
Berita Terkait