Untuk mencapai Desa Mojodungkul, ada 'uji nyali' yang harus dilewati. Tepatnya di jembatan limpas yang menjadi satu-satunya akses masuk Desa Mojodungkul.
"Kalau air limpasannya tinggi tidak bisa dilewati. Kalau hanya setinggi betis, ya tinggal yang mau lewat berani apa tidak. Apalagi bawa sepeda motor atau mobil," ujar seorang warga setempat, Sugik, Kamis (6/2/2014).
Pengamatan detikcom menyebutkan, jembatan limpas itu yang menjadi akses utama masuk Desa Mojodungkul benar-benar menguji nyali calon penyeberang sungai. Setiap musim penghujan, air sungai seringkali melimpas di atas jembatan yang memiliki volume panjang 125 meter itu. Yang bikin deg-degan, arus air limpasan di atas jembatan itu cukup deras.
Selain itu, bagian hulu dan hilir jembatan juga dipenuhi dengan bebatuan besar. Penyeberang yang terpeleset tidak menutup kemungkinan akan terseret arus air dan terbentur bebatuan. Apalagi, batu seukuran genggaman orang dewasa sesekali juga ikut terseret air melimpas di atas jembatan. Sehingga rawan mengenai penyeberang jembatan.
Saat ketinggian air limpasan sampai di atas mata kaki, para penyeberang masih banyak bernyali untuk melintasi jembatan. Termasuk pengendara sepeda motor dan kendaraan roda empat. Namun, tidak sedikit sepeda motor yang tiba-tiba mogok di tengah jembatan akibat mesin dimasuki air.
"Jembatan limpas itu dibangun tahun 2007 dan sudah pernah mendapat sertifikat otonomi award bidang inovasi infrastruktur. Medan sungai yang menjadikan jembatan limpas itu menjadi model jembatan paling memungkinkan di atas sungai itu," tandas Kepala Bina Marga dan Pengairan Situbondo, H Yoyok Mulyadi.
(fat/fat)











































