Jenazah pasutri berprofesi sebagai petani pertama kali ditemukan oleh keponakan mereka saat akan buang hajat pagi hari. Dia terkejut, melihat sang paman tergeletak tak bernyawa di bawah pohon cengkeh, dengan luka bekas jeratan di leher. Saksi tambah terkejut melihat ke atas pohon cengkeh, ternyata sang bibi juga tewas menggantung di pohon cengkeh.
"Dia tadi melihat Pak Sumono sudah di bawah, lalu Supartin posisinya masih menggantung di atas," kata Modin Dusun Krajan, Iswanto, yang mengurusi mayat kedua korban kepada wartawan di lokasi.
Dia menambahkan, kemungkinan si suami terlebih dulu tewas gantung diri, kemudian sang istri menyusul mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Pasalnya, tali yang digunakan keduanya adalah tali yang sama.
"Talinya itu cuma satu, kemungkinan melihat suaminya tewas, Bu Supartin menyusul ikut gantung diri," lanjutnya.
Sementara untuk kepentingan penyelidikan, polisi telah memasang garis polisi di TKP. Hasil olah TKP sementara, polisi menemukan surat wasiat yang ditulis sang istri. Intinya, sang istri tak rela jika harus berpisah. Hanya maut yang bisa memisahkan.
"Hasil lidik kami, surat wasiat ini memang tulisan si istri, namun untuk penyebab pasti peristiwa ini, masih dalam proses penyelidikan," kata Kasat Reskrim Polres Ponorogo, AKP Misrun, kepada detikcom di Polsek Ngebel.
Sementara jasad kedua pasutri yang tewas dengan cara tragis ini telah dimakamkan di pemakaman desa setempat. "Ya keduanya sudah dimakamkan. Sementara pakaian, tali untuk gantung diri serta surat wasiat kami amankan ke polres untuk barang bukti," pungkasnya.
(fat/fat)










































