"Sejak setahun yang lalu saat konflik di KBS mulai memanas, saya justru yang memiliki ide supaya KBS segera dikelola Pemerintah Kota Surabaya," kata Stanny saat ditemui di kediamannya Jalan Margorejo Indah A 601, Kamis (23/1/2014).
"Daripada KBS jadi rebutan, serahkan saja kepada pemkot, walikota. Jadi ide untuk menyerahkan ke Walikota itu adalah saya pribadi," ujar pria kelahiran 6 Mei 1927 ini.
Di balik itu, Stanny pun memiliki harapan yang besar untuk Walikota Tri Rismaharini. Stanny ingin Risma tidak salah memilih orang-orang yang turun langsung mengelola lahan dan satwa KBS.
"Saya harapkan walikota memasang orang-orang yang pengalaman, yang punya cinta kasih. Jangan orang yang tidak pernah tahu (tentang satwa) ditempatkan di situ (di KBS), nanti malah jadi apa disitu," tambah Stanny.
Stanny bersyukur Risma memiliki niat baik untuk mengelola KBS. Tapi satu yang diminta, jangan sembarangan menaruh orang di jabatan penting di KBS.
"Pilihlah orang-orang yang memiliki prestasi dan mengerti kebun binatang. Jangan karena ada kedekatan dengan walikota kemudian diangkat (diberi jabatan). Pilih orang-orang yang memiliki keahlian. Tapi bukan berarti saya ingin masuk, saya nggak ingin, sama sekali nggak ingin." papar Stanny.
Perkumpulan Taman Flora dan Satwa merupakan lembaga pengelola KBS pada periode 1981-2001 silam. Namun di tengah perjalanan, terjadi konflik manajemen yang berbuntut Stanny mengundurkan diri. Pada tahun 2003 Stanny kembali menjabat sebagai Ketua Harian PTFS atas hasil rapat umum anggota luar biasa.
Kemudian pada tahun 2006, pengurus KBS resmi memberi jabatan yang sama kepada Stanny dengan masa jabatan 5 tahun. Sayangnya, pada tahun 2009 kedudukan Stanny digeser paksa oleh Basuki Rekso Wibowo akibat anggota pengurus menolak laporan pertanggungjawaban tahunan kepengurusan Stanny.
(bdh/trw)











































