"Pekan ini akan segera diresmikan supaya bisa langsung dimanfaatkan warga Surabaya," kata Risma, Senin (13/1/2014).
Kepala Bagian Kerjasama, Ifron Hady Susanto menjelaskan, nantinya warga Surabaya tidak hanya belajar mengenai bahasa, melainkan mereka juga bisa belajar tentang peluang impor ekspor dan IT.
"Rumah bahasa ini akan dibentuk seperti klinik. Masyarakat yang mau mengenal ekspor impor, UKM yang belum berpengalaman, mereka bisa bertanya tentang situasi negara-negara ASEAN seperti apa. Seperti situasi politiknya bagaimana, karena situasi politik di sebuah negara sangat mempengaruhi perdagangan," tambah Ifron.
Perlu diperhatikan, rumah bahasa bukan seperti tempat kursus bahasa pada umumnya. Proses pembelajaran akan diberikan secara sederhana.
"Supaya masyarakat yang belajar bisa betah, nyaman dan kami berharap mereka bisa terus konsisten melanjutkan," ujar Ifron.
"Untuk sementara bahasa yang akan dipelajari bahasa Inggris dan Mandarin. Kalau animo masyarakat luar biasa untuk bahasa lainnya, mungkin kami akan berikan pelajaran bahasa-bahasa asing negara ASEAN. Seperti Thailand, Filipina, bahkan bahasa Korea ataupun Jepang," tambahnya.
Rumah bahasa merupakan fasilitas gratis untuk warga Surabaya. Para tenaga pengajar berasal dari sukarelawan akademisi universitas dan lembaga kursus bahasa asing serta mahasiswa asing yang belajar di Surabaya.
"Padahal belum kami resmikan (Rumah bahasa), tapi yang mendaftar sebagai relawan sudah puluhan," tambah dia.
Warga Surabaya yang ingin mendaftar bisa langsung mendatangi rumah bahasa di Gedung Budaya (Komplek Balai Pemuda).
(nrm/fat)











































