Seperti yang dibeberkan Yayasan Paramitra Malang. Yayasan ini menemukan sebanyak 10 PSK asal Dolly bekerja di sejumlah lokalisasi.
"Belum signifikan, tapi sudah menyebar pasca rencana penutupan Dolly," kata fasilitator advokasi Yayasan Paramitra Malang, Marsikan, Selasa (7/1/2013).
Marsikan membeberkan, sejumlah lokalisasi yang ditempati para PSK itu diantaranya di Kabupaten Malang seperti Suko di Kecamatan Sumberpucung dan Gondanglegi.
Saat mereka berpindah akan menjalani pemeriksaan kesehatan reproduksi terhadap infeksi menular seksual (IMS) maupun HIV/AIDS. "Saat pemeriksaan itu diketahui asal mereka sebelum menempati dua lokalisasi tersebut," bebernya.
Hasil pemeriksaan ini akan menjadi acuan untuk konselor mendampingi dan mengawasi penyait yang ditularkan melalui hubungan seksual.
Ia menambahkan, selain berasal dari Surabaya, mereka juga pindahan dari sejumlah lokalisasi yang ditutup lebih dahulu seperti Banyuwangi dan Tulungagung.
Menurutnya, lokalisasi tak bisa ditutup sepihak tanpa memberi bekal keterampilan yang memadai. Sehingga dikhawatirkan para PSK akan terus berpindah dan berputar di sekitar Jawa Timur.
"Perpindahan para PSK ini juga menyulitkan konselor melacak jejak mereka. Hingga kontrol kondisi kesehatannya akan sangat sulit," tegasnya.
Ia justru khawatir jika para PSK menjajakan diri di jalanan dan akan menyulitkan pengendalian HIV/AIDS dan upaya pencegahannya. "Karena lebih, mengontrol saat mereka berada di lokalisasi," sebutnya.
Di Kabupaten Malang tercatat jumlah PSK sebanyak 340 orang yang tersebar di sejumlah lokalisasi. Meliputi lokalisasi Suko dan Slorok Kecamatan Sumberpucung, Gondanglegi, Ngantang, Pujon, dan Kebobang Kecamatan Wonosari.
(bdh/bdh)











































