Rebo Pungkasan, Tradisi Tolak Balak Warga Banyuwangi Awal 2014

Rebo Pungkasan, Tradisi Tolak Balak Warga Banyuwangi Awal 2014

Irul Hamdani, Putri Akmal - detikNews
Rabu, 01 Jan 2014 18:16 WIB
Rebo Pungkasan, Tradisi Tolak Balak Warga Banyuwangi Awal 2014
Foto: Putri Akmal
Banyuwangi - Tahun baru 2014 bertepatan dengan Rabu terakhir di bulan Shafar diyakini sebagian orang penuh dengan marabahaya. Tidak sedikit dari masyarakat Banyuwangi yang meyakininya beramai ramai menjalankan tradisi Rebo Pungkasan dengan mendatangi sumber mata air untuk lakukan doa bersama supaya terhindar dari bencana.

Sebagian orang menyebutkan Rebo Pungkasan atau Rebo Wekasan. Ada yang juga menyebut wekasan berasal dari kata Hasan yang berarti baik (Sunda Banten). Di Madura terkenal Rebbuh Bekasen.

Rebo Pungkasan di Banyuwangi, salah satunya digelar di Pantai Cacalan, Kecamatan Kalipuro. Tradisi yang ditujukan untuk menolak sial ini dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan berakhir hingga pukul 17.00 WIB.

Diawali dengan mengarak hasil bumi seperti sayuran dan buah buahan, ratusan masyarakat berjalan beriringan disepanjang jalan menuju pantai Cacalan. Usai berdoa bersama yang dipimpin tetua adat, warga mandi bersama ke laut sebagai simbolis membuang sial. Seiring waktu, tradisi ini juga diselingi dengan kesenian jaranan baluk dan hiburan musik lainnya.

"Selain melestarikan tradisi tolak balak, kegiatan ini juga dijadikan sebagai salah satu contoh dari kegiatan pariwisata yang peduli lingkungan hidup. Suasana yang akrab terhadap tradisi dan ritual merupakan bentuk penghormatan jejak jejak perkembangan pariwisata tanpa hilangkan kearifan lokal," jelas Ketua Panitia Rebo Pungkasan Pantai Cacalan, Ribut Hariantono pada detikcom Rabu (1/1/2014).

Pelestarian tradisi budaya ini menjadi daya tarik bagi wisatawan. Salah satunya adalah Indra. Pria asal Madiun yang mengaku baru kali pertama melihat tradisi ini mengaku kagum dengan ritual Rebo Pungkasan yang hingga kini masih eksis dilestarikan di Banyuwangi.

Menurutnya, tradisi yang lebih pada kebutuhan spiritual itu merupakan ritual yang perlu dilestarikan. Pasalnya, tidak semua daerah miliki tradisi yang serupa. Terlebih, tradisi tersebut berkaitan erat denga kebutuhan spiritual.

"Yang menarik adalah melestarikan budayanya, kalau untuk tolak balaknya itu kepercayaan masing masing. Dan ini tidak semua tempat tidak semua daerah ada ritual seperti ini, perlu dilestarikan," ungkapnya, ditemui terpisah.

(fat/fat)
Berita Terkait