Untuk menyelamatkan nyawanya, korban langsung dilarikan warga ke RSU dr Abdoer Rahem Situbondo. Sementara Matroso hanya mengalami luka lebam di wajah akibat terkena bogem Mistono. Lewat perangkat desa setempat, Matroso akhirnya memilih menyerahkan diri ke Mapolsek Arjasa.
"Korban luka bacok parah di kepala. Pelaku sudah kita amankan dan masih dalam pemeriksaan. Pengakuan sementara pelaku emosi saat melihat adiknya bertengkar dengan suaminya karena masalah akan jual sapi. Tapi masih terus didalami," kata Kapolsek Arjasa AKP Didik Rudianto, Sabtu (28/12/2013).
Keterangan yang dihimpun detikcom menyebutkan, duel berdarah itu bermula dari perselisihan Mistono dengan istrinya, Jumat (27/12/2013) petang. Disebut-sebut, sang istri marah karena Mistono tiba-tiba hendak menjual sapi piaraannya tanpa sepengetahuannya. Rencana jual sapi itu baru diketahuinya setelah ada seorang pedagang yang datang ke rumah pasutri ini di Dusun Mindi Desa Curahtatal Kecamatan Arjasa.
Saat itulah Mistono dan istrinya langsung bertengkar. Matroso yang bertetangga pun mendengar pertengkaran adiknya dengan suaminya. Dengan menghunus sebilah celurit Matroso langsung mendatangi Mistono. Tahu kakak iparnya bawa celurit, Mistono sempat berusaha lari namun berhasil dikejar dan dibacok kepalanya. Saking kerasnya bacokan, gagang celurit pelaku sampai patah.
Tahu celurit kakaknya terlepas, Mistono yang mengalami luka parah di kepala berusaha bangkit. Sambil berlumuran darah dia pun memberikan perlawanan dengan cara melempar dan membogem wajah Matroso. Merasa mendapat perlawanan dan tanpa senjata di tangan rupanya membuat Matroso jadi keder, hingga akhirnya dia memilih kabur.
"Saya lihat sendiri, tapi tidak bisa melerai karena Masroto bawa celurit. Mistono sudah lari tapi dikejar dan dibacok sampai celuritnya patah. Baru setelah dia pergi saya tolong korban bawa ke kantor polisi, lalu ke rumah sakit," tandas Miswari (28), keponakan Mistono di RSU Situbondo.
(bdh/bdh)










































