1. M Ketut Purnomo
|
|
"Dulu saya suka mencuri burung dara, terus saya bakar, saya makan," ujar Ketut enteng, Senin (23/12/2013).
Ketut kemudian sadar bahwa sikap dan cara hidupnya mulai tak terarah. Suatu ketika di tahun 2011, ia sendiri yang 'menyerahkan diri' utnuk tinggal di UPTD Kampung Anak Negeri. Karena tergolong berbakat dan memiliki fisik yang kuat, Ketut kemudian terpilih menjadi anak yang dibina khusus menjadi atlet balap sepeda.
2. Hendra Putra Pangestu
|
|
"Ibu saya akhirnya setuju saya dididik di sini (UPTD Kampung Anak Negeri)," kata anak lelaki nomor 2 dari 4 bersaudara ini.
Tidak seperti Ketut yang 'menyerahan diri' ke tempat binaan, Hendra yang kini menjadi atlet balap sepeda, dulunya pernah menggelandang dan menjadi pengamen di kawasan Ngesong, Surabaya Selatan.
Rute latihan bersepeda Hendra tergolong jauh. Ia sering menjajal rute luar kota, Surabaya-Tol Waru- Gempol-Malang-Pujon-Mojokerto-Surabaya dengan jarak 230 km. Tanggal 25 Desember besok Rabu, Hendra dan Ketut terpilih menjadi perwakilan Surabaya untuk berlaga di Kejurnas Balap Sepeda yang diadakan Pengurus Besar Ikatan Sport Sepeda Indonesia (ISSI) di Temanggung, Jawa Tengah.
3. Ismail Zakaria
|
|
"Dari kecil pengen jadi atlet," tutur Ismail.
Di lingkungan UPTD Kampung Anak Negeri, Ismail sebenarnya juga diajar mengenal musik, karate dan juga balap sepeda.
"Tapi saya pilih sepeda, enak bisa sekalian refreshing kalau sedang latihan," ujar Mail nama panggilannya.
Ketiga anak binaan yang memeroleh hibah sepeda ini mengaku senang menjadi atlet balap sepeda. Selain karena hobi, mereka pun akhirnya mendapat tambahan penghasilan bila berhasil menyabet juara.
"Sebagian uang untuk service sepeda, sebagian untuk diberi ke orang tua untuk makan," katanya.
Halaman 2 dari 4











































