Lakukan Cara Cerdik Konsumsi Gula, Garam dan Lemak

Lakukan Cara Cerdik Konsumsi Gula, Garam dan Lemak

Reynita Carlina - detikNews
Selasa, 03 Des 2013 15:06 WIB
Surabaya - Selama melakukan aktivitas sehari-hari, tubuh membutuhkan gula, lemak dan garam. Namun jangan mengonsumsi ketiga zat tersebut secara berlebihan. Sebab bisa-bisa terserang penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes, hipertensi, radang sendi, serangan jantung dan stroke.

Pola konsumsi masyarakat Indonesia sendiri menyukai makanan manis, asin, dan berlemak. Menurut penelitian, 24,5% penduduk Indonesia mengonsumsi garam berlebih dan gula yang berlebih sebanyak 12,8%. Keadaan ini diperbesar pula dengan pola konsumsi masyarakat yang gemar mengkonsumsi manis, asin dan berlemak yakni sekitar 23,8%.

"Kebiasaan mengkonsumsi makanan asin berisiko 4,35 kali lipat menderita hipertensi dibanding orang yang tidak mengkonsumsi makanan asin. Selain itu risiko stroke secara signifikan meningkat 6% setiap terjadi peningkatan konsumsi 3 gram atau setara dengan ½ sendok teh garam," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular (PTM) Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan dr Ekowati Rahajeng SKM M Kes di Surabaya, Selasa (3/12/2013).

Dia mengaku konsumsi gula berlebihan berisiko meningkatkan asupan kalori atau pengeluaran energi menurun sehingga berkontribusi menaikkan berat badan dan kegemukan. Dan akhirnya memicu terjadinya sindroma metabolik dan akhirnya menjadi diabetes melitus.

Tidak berbeda jauh dengan gula, mengonsumsi garam sebaiknya dicermati. Jika berlebihan mengakibatkan gangguan pada keseimbangan cairan, sehingga jantung akan memompa darah lebih kuat. Hal inilah yang akan meningkatkan tekanan darah.

"Kondisi inilah yang kemudian membuat kerja jantung lebih berat dan orang berisiko mengalami serangan jantung hingga stroke," tambahnya.

Sementara mereka yang konsumsi lemaknya tinggi, lanjut dia, bisa memunculkan penyempitan pada pembuluh darah koroner yang membawa pengaruh serangan jantung dan stroke.

Kematian akibat PTM, jelas dia, setiap tahun cenderung meningkat. Bahkan angkanya sudah lebih tinggi dari kematian yang disebabkan penyakit menular, yakni 59,5 persen berbanding 28,1 persen. PTM yang menjadi penyebab kematian, antara lain hipertensi (31,7 persen), jantung (7,2 persen), kanker atau tumor (4,3 persen), dan diabetes melitus (1,1 persen).

Head of Nutrifood Research Center Susana mengatakan bahwa masyarakat bisa mencermati label yang terdapat pada produk kemasan untuk memastikan konsumsi gula, garam, dan lemak yang seimbang dan tidak berlebih. Sesuai ajuran BPOM, setiap produk kemasan sudah mencantumkan label nilai gizi dan komposisi bahan yang terdapat dalam setiap kemasannya.

(/)
Berita Terkait