Hal itu disampaikan BSI saat menggelar konsultasi publik terkait penyusunan amdal pertambangan. PT BSI sendiri menggandeng Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) Universitas Brawijaya, Malang, sebagai konsultan dalam penyusunan amdal pertambangan.
Peneliti PPLH Universitas Brawijaya, Arif Rahmansyah menjelaskan, teknologi yang (relatif) ramah lingkungan tersebut tidak menyisakan tailing. Cara kerjanya dilakukan dengan menumpuk batuan bijih emas di satu kolam yang dibawahnya dilapisi plastik. Bijih yang ditumpuk disiram dengan larutan kimia yang bisa melarutkan emas (sianida) yang kemudian diambil emasnya.
Sedangkan larutan kimianya dipakai lagi untuk menyiram batuan bijih emas. Dengan kata lain, air (larutan) mengalami siklus atau sirkulasi sehingga tidak ada yang terbuang. Kalaupun terbuang, hal itu seiring dengan selesainya masa produksi emas yang dilakukan PT BSI.
"Larutan sisanya diolah dulu, yang beracun diambil dan diolah secara runtut. Yang tidak beracun ini baru bisa dibuang ke badan air. Dan waktu pembuangan juga harus ada pengawas seperti KLH dan lain-lainnya untuk memastikan jika itu sudah aman," kata Arif kepada detikcom, Rabu (27/11/2013).
Di Indonesia, teknologi tersebut baru diterapkan oleh perusahaan tambang emas di Bulang Magundo, Sulawesi Utara. Arif mengaku sudah melakukan studi banding ke tempat tersebut. Dosen fakultas Teknik Universitas Brawijaya ini optimis jika BSI mampu menerapkan teknologi yang sama.
Karena topografi gunung Tumpang Pitu sebagai lokasi penambangan memiliki lereng yang tidak terlalu terjal dibanding Bulang Magundo. Sehingga hiblis bisa ditempatkan di lokasi yang mudah dipantau dan pengendalian pencemarannya lebih mudah.
"Tumpang Pitu lebih bagus karena faktor topografi, hiblisnya bisa ditempatkan di lokasi yang mudah dipantau. Miringnya tidak terlalu terjal jadi pengendalian pencemarannya lebih mudah," ungkapnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan, masalah pada penambangan terbuka atau underground sebenarnya lebih kepada masalah keselamatan kerja pertambangan. Dia mencontohkan, bijih emas di Tumpang Pitu terdapat di permukaan. Jika digunakan cara underground maka secara teknologi akan terlalu berat dan tidak ekonomis.
"Di tumpang pitu bijih emas 24 juta ton. Dalam satu tonnya terdapat 0,9 gram. Total estimasi ada 23 ton emas," tandas dosen Geologi ini.
Sementara itu, Kepala Badan Lingkungan Hidup Banyuwangi, Khusnul Khotimah mengatakan, Menteri Kehutanan RI mengijinkan alih fungsi hutan lindung di Gunung Tumpang Pitu menjadi hutan produksi seluas seribu hektar. Surat ijin itu sendiri turun pada November tahun ini.
"PT BSI memulai produksi penambangan emas 2016. Dalam dua tahun ini masih menyusun amdal dan kontruksi infrastruktur," jelas Khusnul.
(/)










































