Pukul 00.00 terjadi pergantian shift para penjaga Jembatan Branjangan. Jembatan tersebut memang sedang direnovasi sehingga harus dijaga untuk membagi ruang masuk bagi kendaraan yang lewat. Satu shift biasanya terdiri dari 6-7 warga.
Saat itu 3 orang sudah ada di lokasi yakni Khusnur Rifai alias Unyil, Mujiono alias pak no, dan Iskandar. Sejak pukul 20.00 WIB, para pendekar sebuah perguruan silat sudah berkali-kali lewat. Mereka datang dari arah Gresik. Setiap lewat, konvoi motor itu selalu membikin suara ribut.
Mereka menggeber gas motor keras-keras (bleyer) serta membunyikan klakson. Penjaga shift pada saat itu membiarkan saja konvoi tersebut lewat. Tetapi saat Unyil berjaga, dia mencoba mengingatkan salah satu pendekar.
"Unyil mengingatkan agar peserta konvoi tidak mbleyer dan membunyikan klakson. Itu terjadi belum lama saat kami berjaga. Buktinya masih kami bertiga yang berjaga. Yang lain belum datang," kata Iskandar kepada detikcom, Selasa (26/11/2013).
Bukannya sadar, pendekar itu malah marah. Dia turun lalu mendekati Unyil yang bertugas membuka portal. "Sopo sing nglarang. Pingin tak obrak-abrik ta (siapa yang melarang. Pingin saya obrak-abrik)," ujar Iskandar menirukan kemarahan pendekar itu.
Setelah membentak demikian, pendekar itu memukul Unyil. Tindakan itu diikuti puluhan kawannya yang lain. Mereka ikut memukul sehingga Unyil terjatuh. Tak puas, mereka terus menendang dan menginjak-injak tubuh Unyil yang terkapar di jalan. Mujiono juga menjadi sasaran. Meski tak separah Unyil, kaki dia ditendangi berkali-kali.
"Saya nggak diapa-apain, saya melerai pengeroyokan itu," lanjut Iskandar.
Keributan itu rupanya terdengar oleh warga lain yang segera keluar rumah. Mengetahui warga keluar sambil membawa pentungan, para pendekar semburat melarikan diri. Sebuah motor berboncengan 3 dipukul oleh warga. Motor itu oleng lalu 3 orang diatasnya terjatuh.
"Saya yang memukul motor itu. Ketiganya jatuh lalu kabur. Motornya kami sita," ujar Munadi, salah seorang warga.
Sebuah motor pendekar yang telat kabur dicegat warga. Dua pengendaranya yakni seorang pria dan perempuan 'disandera'. Mereka adalah Sigid Hermanto dan Vivin Hendrawati. "Warga memang marah dan ingin memukul mereka. Tapi saya mencegahnya. Hanya saja motornya dirusak warga," lanjut Munadi.
Warga kemudian menelepon Polsek Benowo. Tak lama kemudian polisi datang ke lokasi. Dua pendekar yang diamankan dibawa polisi. Warga bersama polisi kemudian berjaga usai kejadian tersebut. Dan kejadian itu memang belum selesai. Sekitar pukul 02.30 WIB, ratusan pendekar menyerbu lokasi.
Rupanya para pendekar yang berhasil lolos dari kejaran warga mengontak temannya. Mereka berniat balas dendam sekaligus membebaskan dua rekannya. Warga pun sudah bersiap. Polisi yang mencium adanya aksi balas dendam meminta warga agar tidak melakukan perlawanan. Polisi meminta warga masuk rumah. Polisi tak ingin ada bentrok langsung antara warga vs pendekar.
"Kapolsek Benowo meminta saya sebagai salah satu sesepuh kampung agar menyuruh warga masuk rumah," kata Iskandar.
Setelah didesak berkali-kali, warga akhirnya bersedia masuk rumah. Tak lama kemudian, datanglah ratusan pendekar berseragam hitam-hitam sambil membawa panji-panji bendera warna putih. Tak melihat keberadaan warga, para pendekar melampiaskannya dengan merusak rumah dan warung.
Mereka melempari atap dan kaca rumah serta warung. Mereka juga membakar sepeda angin, 2 becak, 1 gerobak es tebu, dan i unit TV di pos penjagaan. Tak ada yang bisa menghentikan aksi mereka. Bahkan polisi sekali pun yang jumlahnya memang sedikit. Para pendekar juta takmenemukan dua teman mereka yang 'disandera' karena mereka berdua sudah dibawa polisi.
Aksi itu akhirnya bubar saat sepasukan brimob diterjunkan. Selain membubarkan, personel brimob juga mengamankan puluhan pendekar. Mereka lalu dibawa ke Polrestabes Surabaya. Personel Brimob juga membersihkan sisa-sisa barang dari tengah jalan. Personel brimob terus berjaga meski kejadian tersebut telah usai.
"Untuk sementara, pengaturan antrean kendaraan dilakukan oleh polisi. Kami masih belum berani untuk melakukan pengaturan," tandas Iskandar.
(iwd/iwd)











































