Mereka kini telah mandiri dan mampu memproduksi olahan makanan di rumah Pengolah dan Pemasar (Pokhlasar). Mereka (para eks PSK) tak sendiri. Mereka bergabung dengan ibu-ibu rumah tangga mengolah ikan lele, tuna, udang, dan wader menjadi makanan jadi.
"Saya tidak merekrut, mereka sendiri yang datang dan mengajukan diri," kata Nur Aini (47) Ketua Pengurus Poklahsar saat peresmian rumah Poklahsar di Jalan Dupak Bangunsari 4/7, Kamis (31/10/2013).
Ya, Nur Aini memiliki 10 'anak buah' eks PSK. Nur Aini yang memulai usaha sejak 2009, memberi pelatihan kepada eks PSK mengolah abon tuna, snack tuna, nuget, pangsit lele, abon lele, udang kremes dan wader kremes.
"Salah satu dari mereka, ada yang mantan bartender di salah satu cafe, ada juga mantan PSK. Tapi mereka sepertinya sudah sadar dan ingin kembali ke jalan Allah," tutur Nur Aini.
Nur Aini tentu saja telah meyakinkan diri bahwa para 'anak buah' eks PSK yang bekerja untuknya sehat jasmani dan rohani. Ibu dua anak ini juga telah memeriksakan kesehatan para eks PSK sebelum mulai bekerja mengolah ikan menjadi makanan jadi.
"Alhamdulillah nggak sulit. Mereka juga sehat, ada semangat. Sejak ada pemulangan PSK ke kampung halamannya, PSK yang asli Surabaya banyak yang berinisiatif mendaftar dalam kelompok kami," tutur Nur Aini.
Begitu pula yang dituturkan Ani Sri Watiah (40). Perempuan Ketua kelompok Jahit Kreatif 'Ceria' ini juga memiliki rumah kreatif Kembang Melati di Jalan Dupak Bangunsari gang 1 nomor 4.
"Kami sering ada pelatihan, membuat bros, menjahit, membuat bandana, dompet dan keset kaki," ujar Ani.
Untuk setiap bros pita, Ani membandrolnya dengan harga Rp 10.000 untuk 3 biji bros. Bandana dibandrol Rp 5.000, dompet dibandrol Rp 20 ribu.
(nrm/iwd)










































