Pembangunan Infrastruktur Tertinggl, Daya Saing Indonesia Rendah

Pembangunan Infrastruktur Tertinggl, Daya Saing Indonesia Rendah

Rois Jajeli - detikNews
Kamis, 24 Okt 2013 14:55 WIB
Surabaya - Daya saing Indonesia mengalami ketertinggalan dibanding negara-negara Asean. Salah satu faktornya yakni tertinggalnya pembangunan infrastruktur. Akibatnya biaya logistik di Indonesia menjadi tertinggi di Asean.

Ketua Umum Kadin Indonesia Suryo B Sulisto mengatakan, permasalahan ekonomi Indonesia bermuara pada daya saing tidak terbatas pada masalah infrastruktur, perhubungan, logistik.

"Tapi juga terdapat permasalahan seperti energi, ketersediaan pangan, birokrasi, kesenjangan sosio-ekonomi antar daerah, masalah legislasi dan penegakkan hukum, sistem pendidikan serta faktor politik," ujar Suryo di sela Rakornas Kadin Indonesia Bidang Perhubungan dan Bidang Politik dengan tema 'Meningkatkan daya saing logistik dan transportasi nasional dalam menghadapi Asean Economic Community 2015' di Hotel JW Marriott Surabaya, Kamis (24/10/2013).

Ia menerangkan, pertumbuhan hanya bisa dicapai jika Indonesia bisa menyelesaikan permasalahan bottleneck melalui percepatan pembangunan infrastruktur transportasi dan logistik, pemberian insentif fiskal dan moneter, singkronisasi kebijakan, sertifikasi sumber daya manusia dan konsolidasi potensi logistik domestik.

"Kita berharap dunia usaha juga bisa menciptakan kebutuhan agar transformasi ekonomi secara mendasar dapat berlangsung," terangnya.

Suryo menambahkan, perlu sinergitas antar instansi atau kementerian, karena komplesitas permasalahan yang dihadapi untuk menunjang perkonomian di Indonesia sangat tinggi.

"Polkam, mendagri, perindustrian, perdagangan dan kementerian lainnya semuanya ikut terlibat. Dan mungkin harsu ada komandannya untuk menyelesaikannya, karena ini tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri," ujarnya.

Sementara Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Emirsyah Satar menambahkan, sektor perhubungan udara, darat dan laut sangat penting untuk menunjang pertumbuhan ekonomi.

"Kita akan memberikan input kepada pemerintah. Jangan sampai ini dinikmati oleh negara-negara lain," tandasnya.

(roi/fat)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini