Mata cangkul yang diayunkan pria 28 tahun itu membentur benda keras. Benturan itu membuat pria asal Dusun Kedungsari, Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir ini curiga. Setelah dicongkel dan dibongkar, terkejutlah Supardi.
Sejumlah arca ternyata ditemukannya terpendam di lokasi tanah yang ia gali. Arca itu berbentuk Durga Mahesa yang ditemukannya beserta beberapa arca pendukung seperti arca kuda, relief bunga dan beberapa pecahan relung candi.
Untuk keamanan, temuan arca diserahkan Supriyadi ke Polsek Kunir yang sebelumnya telah dilapori untuk datang ke lokasi. Hingga kini, arca-arca itu masih diamankan aparat kepolisian utnuk koordinasi lebih lanjut dengan Balai Arkeologi guna penelitian lebih lanjut.
Koordinator Aktivis Arkeologi dan Penyelamatan Budaya di Kabupaten Lumajang, yakni Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur (MPPMt) Mansyur Hidayat kepada detiksurabaya.com, Senin (14/10/2013), mengungkapkan dugaannya bahwa arca tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Lamajang Tigang Juru pada abad ke 14 Masehi.
"Temuan benda-benda purbakala ini tergolong unik karena didapati adanya struktur batu bata merah yang ornamennya berupa relief perwujudan arca Betari Durga,” kata Mansyur kepada detikcom, Senin (14/10/2013).
Dari pemeriksaan, Arca Durga Mahesa diketahui diukir di batu merah, memiliki ketinggian 46 centimeter dengan panjang 35 centimeter dan lebar 25 centimeter. Untuk relief arca kuda setinggi 18 centimeter dan lebar 25 centimeter yang lengkap dengan pelananya.
Diperkirakan arca tersebut merupakan hiasan pelengkap dalam relief candi tersebut. Selain itu, terdapat relief genta setinggi 19 centimeter dan lebar 19 centimeter. Genta sendiri merupakan alat kelengkapan upacara dalam ritual agama Hindu. Serta, temuan batu bata sebagai fondasi candi dengan panjang 35 centimeter dan tebal 25 centimeter.
Arkeolog jebolan Universitas Udayana, Bali ini memiliki keyakinan, bahwa Betari Durga dalam kepercayaan Hindu diyakini sebagai istri dari Betara Syiwa. Hal ini dapat diperkirakan bahwa struktur bangunan ini diperkirakan adalah tempat pemujaan yang berhubungan dengan aliran Syiwa.
"Hal ini diperkuat dengan letak daerah candi ini ditemukan, dimana ada aliran sungai sejauh 100 meter dari lokasi temuan yang dapat diperkirakan sebagai penunjang untuk candi pemujaan," paparnya.
Nama Kunir sebagai wilayah penemuan arca tersebut, lanjut Mansyur, dalam Babad Negara Kertagama disebutkan merupakan salah satu Desa Kuno yang disinggahi oleh oleh Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada dalam perjalanannya berkeliling daerah Lamajang.
"Dalam Babad tersebut, daerah Kunir disebut sebagai tempat untuk mencapai daerah Sadeng yang merupakan pelabuhan besar kerajaan Lamajang Tigang Juru," lanjut Mansyur.
Tim Balai Arkeologi akan didatangkan untuk melakukan penelitian hasil penemuan tersebut. Hal ini disampaikan Kepala Kantor Pariwisata, Seni dan Budaya Drs Gawat Sudarmanto.
"Dalam satu atau dua hari ke depan, Tim Balai Arkeologi akan datang melakukan penelitian," kata Gawat.
Aparat Polsek Kunir sendiri telah memasang garis polisi agar tidak dilakukan penggalian yang merusak lokasi penemuan. Jika dibiarkan maka penggalian akan diteruskan dan berpotensi merusak lokasi penemuan tersebut sebelum Tim berwenang melakukan peneltian. Apalagi, di lokasi penemuan diperkirakan juga terdapat timbunan bangunan candi pemujaan sesuai fakta temuan batu pondasi candi di sana.
"Kami apresiatif dengan upaya yang dilakukan aparat kepolisian yang segera bertindak cepat memasang garis polisi di sekeliling lokasi penggalian," lanjut Gawat.
Dari pantauan detiksurabaya.com, lokasi penemuan arca Betari Durga Mahesa dan sejumlah relief pendukung dan bebatuan candi ini, menjadi perhatian masyarakat. Tidak sedikit warga yang datang untuk melihat langsung di lokasi. Namun, mereka hanya bisa melihat di luar garis polisi dengan pengamanan ketat petugas.
(iwd/iwd)











































