"Demand masih tinggi meski dollar naik. Tidak seberapa terpengaruh dan target (penjualan) tetap," kata Amat Prya Darma kepada wartawan di kantor Pusat Penelitian Semen PT SI, Jumat (11/10/2013).
Direktur Pemasaran PT SI itu menjelaskan, melemahnya rupiah terhadap dollar juga tidak mempengaruhi pembangunan pabrik di Rembang dan Indarung. Juga tidak menghambat ekspansi PT SI ke Myanmar maupun Bangladesh.
"Hambatan bukan pada dana, namun lebih ke mempelajari situasi politik seperti di Myanmar. Tapi situais politik di sana sepertinya mulai stabil," lanjut Darma.
Darma mengakui jika terdapat perbedaan pertumbuhan di tahun ini dan tahun kemarin. Pada tahun kemarin di bulan September, pertumbuhan sudah sampai pada angka 14,5 %, tetapi pada tahun ini di bulan September, pertumbuhan itu masih berada pada angka 5,3 %. Darma berkilah jika angka 5,3 % merupakan angka pertumbuhan yang masih bagus.
"Sebetulnya bukan berkurang, tetapi melambat. Melambat bukan pada titik nol, tetapi pada 14,5 %," jelas Darma.
Darma menerangkan bahwa perlambatan pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh supply. Perlambatan diperkirakan terjadi mulai tahun ini, tahun depan hingga tahun 2015. Konsumsi semen di Indonesia hanya akan tumbuh di angka 6 %.
Tetapi di tahun 2016, kelesuan itu akan berakhir seiring banyaknya pabrik dan pemain baru. Diperkirakan akan ada total tambahan kapasitas produksi sebanyak 23 juta ton dari posisi saat ini sebesar 58 juta ton.
"Bahkan mungkin akan terjadi over supply di tahun itu," tandas Darma.
(iwd/iwd)










































