Bapak bejat itu adalah Wanto. Kini pria 35 tahun itu harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di sel tahanan Polrestabes Surabaya.
"Perbuatan tersangka dilakukan mulai Juli-September 2013," kata Iptu Solikin Ferry kepada wartawan, Senin (7/10/2013).
Kanit Jatanum tersebut menceritakan, Wanto mempunyai dua anak yang berusia 14 tahun dan 11 tahun. Anak sulungnya lahir dari istri pertama yang sudah diceraikannya. Sementara anak bungsu lahir dari istri nya yang sekarang.
Ferry menjelaskan, dari pengakuan Wanto, perbuatan tersebut murni dilakukan karena nafsu. Bukan karena istrinya yang tak sanggup melayaninya. Wanto mencabuli korban pertama kali malam hari saat istrinya sedang tidur.
"Tersangka terang-terangan ngomong ke anaknya yang sulung minta untuk dilayani," lanjut Ferry.
Tentu saja korban menolak. Namun penolakan itu mendapat ancaman dari Wanto. Jika enggan melayani, Wanto mengancam anaknya akan dipukul dan dibunuh. Korbab pun takut dan tak bisa mencegah keinginan bejat bapaknya.
"Selain diancam pukul dan bunuh, korban juga pernah diancam pakai pisau. Perbuatan itu juga dilakukan saat si ibu sedang tidak berada di rumah," ujar Ferry.
Perbuatan itu, kata Ferry, dilakukan hampir setiap hari. Merasa aksinya berjalan lancar, pria warga Jalan Indrakila, Tambaksari, itu tambah kebablasan. Wanto juga berniat mencabuli adik si sulung. Si bungsu pun juga tak berani melawan saat digerayangi bapaknya.
"Si bungsu hanya sebatas digerayangi hingga tersangka kami tangkap," terang Ferry.
Tertangkapnya Wanto tak lepas dari keberanian korban. Korban menceritakan semua yang dialaminya kepada bibinya. Bibi nya yang awalnya tak percaya jadi yakin setelah juga mendapat laporan dari para tetangga Wanto.
"Setelah dicabuli, sikap korban sama sekali berbeda. Tetangga juga sering mendengar suara korban berteriak dari dalam rumah," jelas Ferry.
Ferry menjelaskan bahwa kasus itu juga terjadi karena faktor ekonomi. Keluarga tersebut menempati sebuah rumah yang hanya mempunyai satu kamar. Mereka berempat tidur dalam satu kamar.
"Tersangka adalah pekerja serabutan. Sementara istrinya penyapu jalan di Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Pemkot Surabaya," tandas Ferry.
(iwd/iwd)










































