"Saat ini produksi minyak di Bojonegoro mencapai 63 ribu barel per hari. Diharapkan pada akhir tahun depan mencapai 120 ribu barel per hari dan pada 2015 puncak produksi mencapai 200 ribu barel per hari," kata Bupati Bojonegoro Suyoto kepada wartawan di Surabaya, Senin (7/10/2013).
Bupati Bojonegoro yang biasa disapa Kang Yoto ini menerangkan, produksi minyak mentah di Indonesia di kisaran 843 ribu barel dan untuk mencapai 1 juta barel mengandalkan produksi dari kota minyak ini.
"Ini sama artinya 20 persen kebutuhan minyak nasional ada di Bojonegoro," tuturnya.
Untuk mensukseskan Bojonegoro sebagai lumbung energi, Pemkab Bojonegoro membuat berbagai program. Diantaranya, mengoptimalkan semua potensi yang ada. Memanfaatkan peluang tersebut untuk pemberdayaan masyarakat lokal.
Mendorong agar industri migas berada di Bojonegoro, dan memastikan pendapatan migas untuk pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat.
Tapi juga ada 4 problem yang akan dihadapi untuk menjadikan Bojonegoro lumbung energi. Yakni, masalah bisnis. Teknis, legal dan tata kelola, serta problem sosial.
Suyoto menambahkan, problem bisnis dan teknis ditangani oleh pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM. Masalah mengenai legal dan tata kelola, sebagian ada ditangan pemkab. Sedangkan problem sosial, ditangani pemerintah kabupaten.
"Memang problem sosial adalah tanggungjawabnya Bojonegoro. Tapi pemerintah pusat tidak boleh menutup mata masalah sosial dan menyerahkan sepenuhnya ke Bojonegoro," tandasnya.
(roi/fat)










































