Namun itu dulu. Kini keradaannya yang jarang dijumpai membuat bekatul menjadi jenis makanan anak tiri yang terbuang. Kebanyakan hanya digunakan untuk makanan ternak.
Tampaknya Erika (20), salah satu mahasiswa STIE Perbanas ingin melunturkan image bekatul yang sering menjadi anak tiri saat proses penggilingan padi. Bersama rekannya, Cyintia Laura (20), mereka memilih memanfaatkan bekatul sebagai bahan pembuat puding.
"Awalnya kami mikir kalau bekatul kan jarang digunakan, padahal vitamin dan proteinnya tinggi lho," kata Erika saat berbincang dengan detikcom, Jumat (4/10/2013).
Hal pertama yang harus dilakukan, siapkan agar-agar bubuk coklat. Kemudian siapkan pula bubuk bekatulnya. Selanjutnya tinggal mengolah bekatul bersama agar-agar bubuk. Prosesnya sama dengan membuat puding biasanya.
"Masukkan bubuk bekatul dan bubuk agar-agar coklat, juga tambahkan gula. Kemudian ratakan, baru campur dengan air," terang mahasiswa semester 3 jurusan akuntansi STIE Perbanas ini.
Setelah itu masak hingga mendidih. Terakhir, saring adonan puding. Tujuannya untuk memisahkan bekatul yang masih kasar dan belum matang. Diamkan selama 5 menit. Dan terakhir, sajikan dengan krim fla dan buah stroberi.
Menurut Erika, puding bekatul ini tak hanya sekedar inovasi memanfaatkan bahan makanan. Dari puding bekatul yang ia jual seharga Rp 2.500 per cupnya, terkandung asam amino, protein, karbohidrat, vitamin B komplek.
"Manfaatnya untuk membantu diet dan menurunkan kolesterol. Biasanya, jika ingin digunakan untuk bahan diet, tinggal dicampur air dan segera dikonsumsi," tandas Erika.
Inovasi Erika dan rekannya ini ternyata tak hanya isapan jempol. Keduanya juga menjual kreasi mereka di Taman Bungkul, keliling-keliling kampus dan spot-spot tertentu yang berpotensi ramai.
(fat/fat)











































