Surabaya telah 3 kali berturut-turut meraih penghargaan kota layak anak di tahun 2011, 2012, dan 2013. Selain itu, pelayanan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan KB Surabaya dianggap memenuhi kriteria Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia.
"Pemerintah Propinsi Jawa Timur ingin mendorong kabupaten lain untuk bisa menjadi kota layak anak. Nah, Surabaya jadi percontohan. Tahap awal ini, mereka masih memotret bagaimana upaya Surabaya selama ini menghadapi permasalahan anak," kata Wawan Windarto, Kabid Kesra dan Aparatur Bappeko Surabaya saat ikut dalam monitoring di ruang Borobudur, lantai 2 Gedung Bappeko, Senin (30/9/2013).
Pada 2011 lalu, penghargaan kota layak anak tingkat Madya diraih Kota Surabaya. Dua tahun berturut-turut kemudian, Kota Pahlawan ini berhasil mendapat penghargaan serupa dengan tingkat yang lebih tinggi, yaitu tingkat Nindya.
Salah satu upayanya, lanjut Wawan, yakni sosialisasi ke sekolah-sekolah. Pihaknya mengaku, dengan rajin melakukan sosialisasi, berbagai permasalahan anak dapat terungkap.
Sementara itu, Nanis Chairani Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan KB mengaku sering membuka sharing kepada anak-anak usia 0-18 tahun.
"Kami tidak menutup kemungkinan apapun, anak-anak ini punya masalah apa sih sebenarnya? Misalnya dia (anak) berasal dari keluarga broken home. Dia harus bekerja. Awalnya ini tidak terungkap, tapi setelah kami melakukan pendekatan, dia akan curhat," aku Nanis.
"Bahkan Bu Risma Walikota Surabaya pernah ikut turun tangan dalam sosialisasi," pungkas dia.
(nrm/fat)











































