Selain tidak ingin formal saat di jalan, Risma juga tidak terlalu suka dengan aturan protokoler yang dapat membatasi ruang geraknya.
Risma yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Bappeko Kota Surabaya ini memberikan alasan kenapa dirinya enggan mendapat pengawalan voorijder.
"Misalkan saya mendapat pengawalan voorijder, tapi tiba-tiba di depan macet, lalu saya turun buat ngatur lalu lintas, voorijder kan sudah lari. Untuk apa saya pakai voorijder," kata Risma.
Dengan tidak menggunakan pengawalan, Risma berpesan jika apa yang dilakukannya ini bukan sebuah pencitraan. Bahkan, Risma mengaku tidak pernah melihat dirinya sebagai walikota.
"Saya kadang lupa jika saya ini walikota, saya pingin angkat sampah ya saya ambil. Saya nggak peduli itu," ujar Risma, beberapa waktu lalu.
Risma juga menegaskan jika dirinya sebenarnya bukanlah seorang walikota yang dalam arti harus dihormati. Kalau saya ini adalah pelayannya masyarakat.
"Tujuan saya menjadi walikota untuk mensejahterakan masyarakat, bukan untuk saya dapat penghargaan," tegas Risma.
Hal tersebut dibenarkan oleh Humas Pemkot Surabaya, M Fikser. Menurutnya, semenjak Risma dilantik menjadi Walikota Surabaya, Risma hampir tidak pernah meminta pengawalan voorijder.
"Sejak pertama kali dilantik jadi Walikota, Bu Risma nggak pernah pakai pengawalan voorijder. Bu Risma sudah merasa aman kok blusukan kemana-mana," tutur Fikser, kepada detikcom, Senin (30/9/2013).
(/)










































