Itulah yang dialami Tri Rismaharini (Risma). Sebagai Walikota Surabaya, tentu ingin mewujudkan Surabaya menjadi lebih baik. Keinginan untuk menutup lokalisasi prostitusi yang masih terdapat di Surabaya berbuah ancaman.
"Soal penutupan lokalisasi itu pun saya sempat diancam dibunuh," kata Risma saat jumpa wartawan di ruang kerjanya, Balai Kota Surabaya, Senin (23/9/2013).
Saat mengungkap ancaman pembunuhan itu, Risma juga memperagakan lehernya yang sedang digorok. Sayangnya, Risma tidak membeberkan detil ancamannya.
Namun Risma tak gentar meski taruhannya nyawanya sekalipun. Tekad untuk membersihkan kemaksiatan dari Kota Pahlawan terus diupayakan.
"Buktinya saya masih ada sekarang," kata Risma dengan gaya khasnya.
Yang pasti, Risma akan mengambil kebijakan yang berpihak untuk kebaikan meski risiko jabatan hingga nyawa sekalipun. "Sing penting kuto iki dadi apik (Yang penting kota ini jadi bagus)," tegas Risma.
(ze/gik)











































