Selain tiga korban tewas, miras oplosan itu juga membuat lima korban lain dirawat di rumah sakit. Tiga korban tewas adalah Agus Suparto, warga Desa Suci, Zainuri Budi (34), warga Jalan Gubernur Suryo dan Ahmad Basori Alwi (20), warga Sindujoyo VII A.
Sedangkan lima korban dirawat di RSUD Ibnu Sina adalah Ahmad Nizar (21), warga Jalan Sindujoyo yang harus menjalani cuci darah karena ginjalnya rusak akibat miras, M Masud (15) dan Sugianto (24), keduanya warga Jalan Sindujoyo yang mengalami kebutaan sementara. Selain itu, korban lainnya adalah Ahmad Nidlom (19) dan Rhomdoni Felik (20).
"Mereka berpesta miras di sebuah kafe di Jalan Embong Malang Surabaya," kata AKP Mulyono kepada wartawan, Kamis (19/9/2013).
Kapolsek Kota Gresik itu mengatakan, meski dalam satu kafe, namun mereka berbeda lokasi meja. Mereka juga datang secara terpisah. Sebagian korban mulai pesta miras pada Sabtu (14/9/2013).
"Yang datang pesta miras hari pertama itu yang saya tahu adalah Ahmad Nidlom," lanjut Mulyono.
Minggu (15/9/2013) malam, mereka mendatangi kafe itu lagi dan berpesta miras lagi. Keesokan malam atau Senin (16/9/2013) malam, mereka lagi-lagi menggelar pesta miras. "Saya belum tahu pasti detailnya siapa saja yang berangkat pada 3 hari tersebut. Para korban belum semuanya bisa ditanyai," terang Mulyono.
Dampak 3 hari pesta miras itu terasa pada Selasa (17/9/2013) malam. Dan pada pagi harinya atau Rabu (18/9/2013), mereka masuk rumah sakit. Saat dirawat, 3 korban meninggal. Polisi sendiri baru mengetahui adanya korban tewas hari ini karena sebelumnya tidak dilaporkan.
Marti (57), ibu Ahmad Nidlom menuturkan, putranya mulai merasakan sakit sejak Selasa (17/9). "Waktu itu anak saya mengeluh sakit perut dan kepala pusing," ujar Marti.
Marti yang merasa khawatir langsung membawa anaknya ke RSUD Ibnu Sina Gresik. "Kata dokter penyakit anak saya karena miras oplosan," terang Marti.
Ahmad Nidlom sendiri mengaku masih merasakan sakit pada kepalanya. Nidlom takut akan kondisinya karena mendengar jika ada temannya yang tewas karena miras tersebut. "Saya takut karena teman saya ada yang meninggal," sesal Nidlom.
(iwd/iwd)











































