Saat ini saja pembudidaya Sidat di Banyuwangi sendiri tersebar di 13 dari 23 Kecamatan di Banyuwangi. Diantaranya di Kecamatan Songgon, Sempu, Srono, Rogojampi, Singojuruh, Cluring, Purwoharjo, Gambiran, Tegalsari, Bangorejo, Genteng, Muncar dan Kabat. Dan diprediksi penyebaran pembudidaya Sidat di Banyuwangi semakin meluas.
"Indikasinya banyak pembudidaya baru (pemula) yang bermunculan di wilayah (Kecamatan.red) lain, meski skalanya masih kecil," ujar Sekretaris Asosiasi Sidat (Asidat) Banyuwangi, Heri Prasetiawan, ditemui detikcom di rumahnya, Kamis (19/9/2013).
Sebelumnya, lanjut Heri, pembudidaya Sidat di Banyuwangi hanya di Kecamatan Singojuruh dan Kecamatan Muncar. Rata-rata, pembudidaya di Banyuwangi hanya melakukan pembesaran dan jual beli benih sidat. Karena dua potensi itu memiliki nilai ekonomi yang tinggi seiring tingkat konsumsi Sidat yang semakin baik pula.
Semisal untuk pembesaran saja, pembudidaya mengaku kewalahan memenuhi permintaan konsumsi lokal. Belum lagi permintaan dari luar daerah, seperti Bali, Surabaya serta Jakarta. Bahkan terpaksa harus realistis "menolak" tawaran kontrak kerjasama dengan beberapa restoran makanan Jepang dan Korea yang kebutuhan Sidatnya mencapai 1 ton per bulan.
"Kita belum berani terima kontraknya, karena memang belum mampu mencukupi permintaan," ujar Danil, pembudidaya Sidat asal Desa Parijatah Kulon, Kecamatan Srono, ditemui detikcom terpisah.
Sementara, permintaan benih Sidat (glass eel, p1, pensil, finger) juga mulai meningkat seiring bermunculan pembudidaya baru. Dimana, rata-rata tiap harinya ada 2 orang pembudidaya baru atau pembudidaya ikan tawar yang beralih ke budidaya sidat.
Dari 15 jenis sidat yang ada, masih kata Danil, yang umum dibutuhkan pasar Indonesia, adalah jenis Bicolor. Jenis Bicolor ini memiliki tipical paling mirip dengan sidat jepang. Durinya sedikit, tekstur daging dan tubuh serta rasa hampir mirip dengan sidat jepang.
"Kalau jenis Marmorata durinya cenderung banyak, rasanya juga berbeda," urainya.
Danil memprediksi, jika trend budidaya Sidat di Banyuwangi terus menunjukkan progress yang baik. Bukan tidak mungkin, ke depan Banyuwangi akan menjadi daerah penyuplai Sidat di Jawa Timur. Keuntungan dari bisnis ini disebut bisa mencapai antara 100 hingga 400 persen.
Namun ada beberapa kendala yang hingga kini terus dicarikan solusinya dengan melakukan riset internal. Semisal dengan membuat standar operasional (SOP) budidaya Sidat untuk kalangan sendiri. Mulai dari pola perlakuan, hingga persoalan pakan dengan kandungan nutrisi yang tepat.
"Sejauh ini SOp yang kita terapkan berdasarkan kajian kita sendiri. Mulai dari kolamnya bagaimana, pakan yang baik apa ya kita buat sendiri dari riset yang kita lakukan," ujar pria berkumis tipis ini.
Dia menjelaskan, pakan Sidat di Banyuwangi kebanyakan diolah sendiri oleh pembudidaya. Sentrat yang dikeluarkan industri, kandungan protein paling tinggi 30 persen.
Di sisi lain Sidat membutuhkan pakan dengan kandungan protein sekitar 50 persen. Solusinya, petani mengkombinasi pakan pabrikan dengan pakan dari alam. Semisal mencampur sentrat dengan kepala udang dan sumber protein hewani lainnya.
"Membuat pakan sendiri bisa memangkas biaya produksi," tandasnya.
(fat/fat)











































