Massa meluapkan emosinya dengan menyegel kantor desa dan mengusir perangkatnya. Mereka juga berorasi dan membentangkan aneka poster tuntutan sambil membakar ban-ban bekas di halaman kantor.
"Kami tidak akan bubar dari kantor ini sebelum bertemu panitia. Kami menuntut semua temuan dugaan kecurangan dalam Pilkades diusut tuntas. Kami harus bertemu panitia," kata Baisono, korlap aksi, Senin (16/9/2013).
Informasi yang dihimpun detikcom menyebutkan, ratusan massa yang melurug kantor desa itu kecewa karena menuding adanya kecurangan dalam Pilkades Desa Sumberanyar yang memenangkan calon bernama Subaidi. Lewat Pilkades Subaidi meraih 3.025 suara mengungguli dua calon lainnya, yakni Irhamni 2.802 suara dan Khusnul Khotimah 2.876 suara.
Indikasinya, konon ditemukan anak-anak di bawah umur yang memiliki hak suara. Terkait dugaan kecurangan itu, salah satu calon sempat melayangkan nota keberatan, namun hingga kini belum ada kejelasan.
Massa pun melurug ke kantor desa untuk menanyakan kelanjutan nota keberatan tersebut. Namun, ditunggu beberapa jam panitia pilkades tetap tak muncul hingga massa emosi.
"Kecurangan itu harus diusut tuntas dan segera ada keputusan. Jika tidak kami akan membawa massa yang lebih besar ke kantor kecamatan dan kabupaten," ancam Baisono.
Untuk mengantisipasi hal tak diinginkan, puluhan personil kepolisian masih disiagakan di kantor Desa Sumberanyar. Upaya persuasif masih terus dilakukan pihak polisi untuk menurunkan emosi massa. Menurut Kasubbag Humas Polres Situbondo, AKP Wahyudi, upaya penyelesaian masalah Pilkades Desa Sumberanyar, Kecamatan Banyuputih, saat ini sedang diupayakan oleh pihak-pihak terkait.
"Sekarang sedang dikoordinasikan dengan pihak pemkab. Kami hanya bertugas mengamankan saja. Saat ini ada satu peleton Dalmas yang disiagakan di sana. Tapi kami tetap mengedepankan pendekatan persuasif," tegas Wahyudi kepada detikcom.
(fat/fat)










































