Panorama Surgawi Perut Bumi Gua Gong

Panorama Surgawi Perut Bumi Gua Gong

Purwo S - detikNews
Sabtu, 14 Sep 2013 12:26 WIB
Panorama Surgawi Perut Bumi Gua Gong
Panorama Gua Gong Pacitan/Budi Sugiharto
Pacitan - Berwisata ke Pacitan tidak lengkap rasanya jika belum melihat keindahan Goa Gong. Obyek wisata alam yang terletak di Desa Bomo Kecamatan Punung, ini menyajikan pemandangan perut bumi nan indah memesona.

Stalagtit dan stalagmit di dalamnya menciptakan panorama yang membuat mata teduh. Makin lama menyusuri lorong di dalamnya, makin tercengang siapapun yang melihatnya.
Dibanding beberapa obyek wisata gua lainnya, Gua Gong memiliki beberapa kelebihan. Salah satunya, stalagtit dan stalagmit di dalamnya masih aktif.

Artinya, bebatuan alam tersebut masih berkembang membentuk dirinya sendiri. Karenanya, kelembaban menjadi faktor penting yang selalu dipertahankan.

"Gua Gong itu salah satu gua yang masih aktif," kata pengamat pariwisata Johan Perwiranto kepada detikcom, Sabtu (14/9/2013).

Untuk menuju ke Goa Gong akses jalan yang tersedia cukup mulus. Hanya berjarak 7 Km dari Kota Kecamatan Punung, wisatawan dapat mengendarai kendaraan roda 2 maupun roda 4 ke arah selatan.

Bahkan jika wisatawan datang secara rombongan dan mengendarai kendaraan besar sekalipun tak perlu khawatir. Sebab, di kawasan Goa Gong terdapat area parkir yang cukup luas.

Memang untuk menuju mulut gua, wisatawan masih harus berjalan kaki sepanjang 300 meter dengan medan menanjak. Namun tak perlu takut tergelincir. Sebab titian yang ada semuanya berupa tangga dari semen. Selepas melewati tanjakan, jalan yang dilewati cukup landai. Sementara di kanan kiri terdapat ratusan kios yang menawarkan aneka produk khas.

Tak hanya menjajakan makanan lokal seperti tempe benguk, lontong pecel maupun kelapa muda, di kios-kios yang tertata rapi anda bisa membeli aneka produk asli Kota 1001 Gua. Umumnya berupa cendera mata berbahan baku batu mulia. Tak hanya akik namun juga beragam ornamen lain seperti anting, kalung, liontin dan hiasan rumah tangga dari batu.

Setibanya di mulut gua, nuansa khas perut bumi begitu terasa. Yakni hawa lembab yang langsung terasa begitu kita masuk kedalamnya. Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang, ada baiknya membawa lampu penerangan. Tak perlu jauh-jauh membawa dari rumah. Sebab banyak penyedia persewaan lampu senter yang berjajar di mulut gua.

"Murah mas. Hanya Rp 10 ribu saja," kata seorang perempuan menawarkan jasa sewa senter.

Selama di dalam gua, wisatawan dapat menikmati pemandangan perut bumi dengan cukup nyaman. Mereka tetap bisa berlama-lama hanyut dalam takjub tanpa khawatir kepanasan. Sebab, pada beberapa penjuru gua terdapat kipas berukuran sedang.

Permukaan ruangan gua semakin tampak eksotis dengan pancaran cahaya warna-warni dari lampu LED yang terpasang di tiap sudut. Saat melintasi lajur sepanjang 300 meter dengan bentuk lintasan melingkar, wisatawan dapat melihat dari dekat lekuk-lekuk permukaan gua yang indah dan meneteskan air meskipun sepanjang kemarau.

Sedikitnya ada 5 pilar utama serta lempeng Batu Gong yang jika dipukul menghasilkan bunyi menyerupai suara gong. Di lantai gua juga terdapat beberapa sendang dengan air jernih.

"Ada yang meyakini jika kita membasuh muka dengan air (sendang) itu, maka kita akan awet muda dan naik derajatnya," ungkap Eka, wisatawan lokal.

Puas menyusuri permukaan gua, wisatawan dapat kembali menuju pintu keluar melalui tangga yang diapit pagar logam tahan karat. Tak terasa peluh membasahi pakaian. Energi yang terbakar selama menyusuri lorong seakan terbayar oleh indahnya panorama surgawi di semua sisi dinding gua. Itulah sebabnya, tempat ini mendapat julukan "Gua Terindah di Asia Tenggara".

(fat/fat)
Berita Terkait